Review Juminten Edan: Horor Psikologis yang Menggali Trauma, Bukan Sekadar Menebar Jump Scare

Review Juminten Edan: Horor Psikologis yang Menggali Trauma, Bukan Sekadar Menebar Jump Scare

CINEMA XXI

Visual dan Tata Suara Sangat Mendukung

Lokasi syuting di kawasan Pacitan, Demak, dan Gunungkidul berhasil menghadirkan suasana pedesaan yang sunyi sekaligus terisolasi.

Selain visual, tata suara menjadi salah satu elemen paling efektif. Dalam beberapa adegan, suara sengaja diminimalkan untuk mengikuti perspektif Juminten yang memiliki keterbatasan pendengaran terhadap lingkungan sekitarnya. Teknik sederhana ini justru memperkuat rasa mencekam tanpa perlu mengandalkan musik keras atau efek kejut berlebihan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa horor yang efektif tak selalu membutuhkan efek spektakuler.

Masih Ada Kekurangan

Meski menawarkan konsep yang segar, Juminten Edan bukan tanpa kelemahan.

Tempo cerita pada babak awal berjalan cukup lambat sehingga membutuhkan kesabaran sebelum konflik utama benar-benar berkembang. Beberapa unsur supranatural juga terasa kurang dieksplorasi, sementara sejumlah karakter pendukung belum memperoleh porsi pengembangan yang memadai.

Namun, kelemahan tersebut tidak terlalu mengganggu karena berhasil ditutupi oleh atmosfer yang konsisten dan kualitas akting para pemain utama.

Layak Ditonton?

Juminten Edan berhasil membuktikan bahwa horor Indonesia tak harus bergantung pada darah dan jump scare untuk menciptakan rasa takut.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini