Review Juminten Edan: Horor Psikologis yang Menggali Trauma, Bukan Sekadar Menebar Jump Scare

Review Juminten Edan: Horor Psikologis yang Menggali Trauma, Bukan Sekadar Menebar Jump Scare

CINEMA XXI

Film horor Indonesia beberapa tahun terakhir identik dengan adegan berdarah, penampakan makhluk menyeramkan, dan jump scare yang datang silih berganti. Namun, Juminten Edan memilih jalan berbeda. Disutradarai oleh Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, film ini menghadirkan horor yang lebih tenang, emosional, sekaligus mengusik psikologis penonton.

Tayang di bioskop Indonesia sejak 23 Juli 2026, film produksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production ini membuktikan bahwa rasa takut tak selalu lahir dari sosok hantu atau adegan penuh darah. Justru, teror terbesar berasal dari trauma masa lalu, tekanan batin, dan rahasia keluarga yang perlahan terkuak.

Sinopsis: Kepulangan yang Membuka Luka Lama

Cerita berfokus pada Juminten, diperankan Meisya Amira, seorang perempuan tunawicara yang kembali ke kampung halamannya setelah delapan tahun meninggalkan desa tempat ia dibesarkan. Ia pulang bersama suaminya, Dimas Aditya sebagai Manto, serta putri kecil mereka, Saskia.

Awalnya, kepulangan itu disambut hangat keluarga. Namun keadaan berubah ketika Juminten mulai mengalami berbagai kejadian ganjil. Ia kerap kehilangan kesadaran, bertindak di luar kendali, hingga diyakini warga desa mengalami kerasukan.

Di sisi lain, muncul anggapan bahwa kondisi Juminten bukan semata akibat gangguan gaib, melainkan trauma masa kecil yang selama ini terkubur. Dari titik inilah film perlahan membuka misteri yang selama bertahun-tahun disembunyikan keluarganya.

Alih-alih langsung menghadirkan teror, film memilih membangun perjalanan emosional tokoh utamanya sebelum membawa penonton menuju klimaks yang intens.

Atmosfer Jadi Senjata Utama

Keunggulan terbesar Juminten Edan terletak pada keberaniannya meninggalkan formula horor yang mengandalkan gore dan jump scare.

Ketegangan dibangun melalui keheningan, tatapan para karakter, ruang-ruang kosong, serta konflik keluarga yang perlahan memanas. Pendekatan ini membuat rasa tidak nyaman terus menghantui penonton, bahkan ketika tak ada sosok hantu muncul di layar.

Nuansa tersebut mengingatkan pada horor klasik yang mengandalkan atmosfer sebagai sumber ketakutan utama. Dipadukan dengan sinematografi modern dan cerita yang sarat misteri, film ini terasa berbeda dibanding banyak horor Indonesia belakangan ini.

Akting Meisya Amira Sangat Meyakinkan

Penampilan Meisya Amira menjadi jantung kekuatan film.

Memerankan karakter tunawicara bukanlah tugas mudah. Sebagian besar emosi harus disampaikan melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, tatapan mata, dan bahasa isyarat. Tantangan tersebut dijawab dengan sangat baik.

Tanpa banyak dialog, Meisya mampu memperlihatkan ketakutan, kebingungan, hingga keputusasaan Juminten ketika masa lalunya kembali menghantui.

Sementara itu, Dimas Aditya tampil solid sebagai Manto, sosok suami yang tetap percaya kepada istrinya ketika hampir seluruh warga desa mulai menganggap Juminten kehilangan kewarasannya. Hubungan keduanya menjadi fondasi emosional yang membuat drama keluarga dalam film terasa lebih kuat.

Representasi Difabel yang Lebih Bermakna

Salah satu aspek yang layak diapresiasi adalah cara film menggambarkan penyandang disabilitas.

Juminten tidak sekadar dijadikan simbol penderitaan atau objek belas kasihan. Karakternya tetap diperlakukan sebagai manusia utuh yang memiliki keberanian, ketakutan, pilihan hidup, dan konflik batin.

Pendekatan tersebut membuat tokoh utama terasa lebih realistis sekaligus memberi warna baru bagi perfilman horor Indonesia.

Visual dan Tata Suara Sangat Mendukung

Lokasi syuting di kawasan Pacitan, Demak, dan Gunungkidul berhasil menghadirkan suasana pedesaan yang sunyi sekaligus terisolasi.

Selain visual, tata suara menjadi salah satu elemen paling efektif. Dalam beberapa adegan, suara sengaja diminimalkan untuk mengikuti perspektif Juminten yang memiliki keterbatasan pendengaran terhadap lingkungan sekitarnya. Teknik sederhana ini justru memperkuat rasa mencekam tanpa perlu mengandalkan musik keras atau efek kejut berlebihan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa horor yang efektif tak selalu membutuhkan efek spektakuler.

Masih Ada Kekurangan

Meski menawarkan konsep yang segar, Juminten Edan bukan tanpa kelemahan.

Tempo cerita pada babak awal berjalan cukup lambat sehingga membutuhkan kesabaran sebelum konflik utama benar-benar berkembang. Beberapa unsur supranatural juga terasa kurang dieksplorasi, sementara sejumlah karakter pendukung belum memperoleh porsi pengembangan yang memadai.

Namun, kelemahan tersebut tidak terlalu mengganggu karena berhasil ditutupi oleh atmosfer yang konsisten dan kualitas akting para pemain utama.

Layak Ditonton?

Juminten Edan berhasil membuktikan bahwa horor Indonesia tak harus bergantung pada darah dan jump scare untuk menciptakan rasa takut.

Dengan akting yang kuat dari Meisya Amira, penyutradaraan yang fokus membangun atmosfer, serta cerita yang mengangkat trauma dan konflik keluarga, film ini menawarkan pengalaman horor yang lebih emosional sekaligus membekas.

Bagi penonton yang menyukai horor psikologis dengan narasi yang lebih matang, Juminten Edan layak menjadi salah satu pilihan terbaik di bioskop tahun ini.

Rating: 8,7/10

Juminten Edan menghadirkan horor yang pelan namun menghantui. Ketakutan dalam film ini bukan sekadar berasal dari hal-hal gaib, melainkan dari luka masa lalu yang tak pernah benar-benar sembuh dan sisi gelap manusia yang terus membayangi kehidupan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini