Review Sajen Satu Suro: Horor Klenik Jawa yang Memadukan Teror Mistis dan Rahasia Keluarga

Review Sajen Satu Suro: Horor Klenik Jawa yang Memadukan Teror Mistis dan Rahasia Keluarga

CINEPOLIS

Sajen Satu Suro menjadi salah satu film horor Indonesia yang mengangkat mitologi Jawa dengan balutan cerita penuh misteri. Disutradarai oleh Gatot Subroto, film berdurasi 106 menit ini memadukan ritual malam Satu Suro, pusaka keramat, dan konflik keluarga menjadi sajian horor yang sarat nuansa budaya lokal.

Tidak hanya mengandalkan kemunculan makhluk gaib, film ini juga membangun ketegangan melalui rahasia masa lalu yang perlahan terungkap, sehingga memberikan pengalaman menonton yang lebih dari sekadar horor penuh kejutan.

Sinopsis

Cerita mengikuti Tania yang diperankan Aisyah Aqila. Ia berusaha menyelamatkan ibunya yang sedang sakit kritis setelah berbagai pengobatan tidak membuahkan hasil. Tania percaya penyakit sang ibu berkaitan dengan kutukan lama yang menghantui keluarganya.

Satu-satunya cara untuk memutus kutukan tersebut adalah mengembalikan keris warisan mendiang kakeknya ke Desa Maduabang sebelum malam Satu Suro berakhir. Tanpa sepengetahuan ayahnya, Tania mengajak tiga sahabatnya, yakni Jeff (Cinta Brian), Laura (Frislly Herlind), dan Robby (Munggaran), melakukan perjalanan menuju desa tersebut.

Sesampainya di Desa Maduabang, kedatangan mereka justru memicu keresahan warga. Keris yang dibawa Tania ternyata berkaitan erat dengan Sapto Dilogo (Clift Sangra) dan tragedi kelam yang pernah terjadi di desa itu.

Warga meyakini pusaka tersebut mampu membangkitkan arwah Sumarni, sosok Hantu Andong Pengantin yang selama ini menjadi legenda mengerikan. Ritual sajen yang dilakukan untuk meredam amarah arwah justru gagal, sehingga teror demi teror mulai menghantui Tania dan teman-temannya.

Budaya Jawa Menjadi Kekuatan Cerita

Nilai lebih film ini terletak pada keberhasilannya menjadikan budaya Jawa sebagai fondasi utama cerita. Ritual malam Satu Suro, tradisi sajen, hingga keberadaan keris pusaka bukan sekadar menjadi pelengkap, melainkan berperan penting dalam membangun konflik.

Pendekatan tersebut membuat Sajen Satu Suro memiliki identitas yang kuat dibandingkan banyak film horor lokal yang hanya mengandalkan rumah angker atau lokasi terbengkalai sebagai sumber ketakutan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini