Review Film Perumahan Laddaland: Ketika Rumah Impian Berubah Menjadi Sumber Teror

Review Film Perumahan Laddaland: Ketika Rumah Impian Berubah Menjadi Sumber Teror

ISTIMEWA

Film Perumahan Laddaland mencoba mengadaptasi salah satu film horor Thailand populer ke dalam latar Indonesia. Disutradarai Awi Suryadi dengan skenario Lele Laila, film ini memadukan horor supernatural, drama keluarga, dan jumpscare untuk menghadirkan kisah tentang sebuah rumah impian yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.

Film ini merupakan remake dari Ladda Land (2011) garapan Sophon Sakdaphisit. Jika versi aslinya dikenal karena menggabungkan teror dengan konflik keluarga, versi Indonesia memiliki tantangan untuk membuat cerita tersebut terasa lebih dekat dengan realitas masyarakat lokal.

Sinopsis Perumahan Laddaland

Cerita mengikuti Tommy (Andri Mashadi), seorang kepala keluarga yang ingin memberikan kehidupan lebih baik bagi istri dan kedua anaknya. Setelah merasa terus dipandang sebelah mata oleh mertuanya, Tommy memutuskan membawa keluarganya pindah ke sebuah rumah di kompleks Perumahan Laddaland.

Awalnya, kepindahan tersebut menjadi harapan untuk memulai kehidupan baru. Namun, suasana berubah setelah Eneng (Delia Husein), seorang asisten rumah tangga, ditemukan meninggal secara misterius.

Peristiwa tersebut menjadi awal munculnya berbagai kejadian menyeramkan. Satu per satu penghuni mulai meninggalkan kompleks, sementara keluarga Tommy tidak bisa begitu saja pergi karena kondisi finansial mereka.

Di saat teror semakin meningkat, persoalan keluarga Tommy juga ikut membesar. Tania (Anantya Kirana) kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, sedangkan Elvin (Shakeel Fauzi) justru berteman dengan seorang anak tetangga yang misterius.

Pada saat yang sama, Melissa (Titi Kamal) mendapat tawaran pekerjaan, sementara Tommy harus menghadapi persoalan investasi yang semakin menekan kondisi ekonomi keluarganya.

Jumpscare Masih Menjadi Andalan

Dari sisi horor, Perumahan Laddaland cukup mampu menciptakan atmosfer yang tidak nyaman.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini