ULASAN The Dog Stars Tawarkan Drama Survival yang Lebih Menonjolkan Harapan

ULASAN The Dog Stars Tawarkan Drama Survival yang Lebih Menonjolkan Harapan

CINEMA XXI

Film The Dog Stars garapan Ridley Scott mengambil latar dunia setelah pandemi mematikan yang membuat sebagian besar manusia musnah. Alih-alih menghadirkan tontonan post-apokaliptik penuh aksi, film ini justru lebih banyak mengeksplorasi kehilangan, kesepian, dan harapan untuk kembali menemukan kehidupan.

Cerita berpusat pada Hig yang diperankan Jacob Elordi, seorang penyintas yang tinggal di landasan udara terpencil bersama anjing kesayangannya, Jasper, serta Bangley (Josh Brolin), mantan marinir yang memiliki karakter keras dan penuh kewaspadaan.

Keduanya mempunyai pandangan berbeda mengenai dunia pasca-bencana. Hig masih meyakini kemungkinan adanya kehidupan yang lebih baik di luar tempat tinggal mereka. Sebaliknya, Bangley melihat dunia tersebut sebagai tempat berbahaya dengan prinsip bertahan hidup yang sederhana, yakni membunuh sebelum dibunuh.

Perbedaan perspektif tersebut menjadi salah satu fondasi utama cerita. Film tidak hanya memperlihatkan perjuangan bertahan hidup setelah kehancuran dunia, tetapi juga mempertanyakan apakah manusia masih mampu mempertahankan harapan ketika hampir seluruh hal yang mereka cintai telah lenyap.

Lebih Banyak Drama daripada Aksi

Sekilas, The Dog Stars dapat terlihat seperti film survival yang dipenuhi adegan pertempuran dan pengejaran. Namun, Ridley Scott memilih pendekatan yang lebih lambat dan reflektif.

Hig lebih banyak menghabiskan waktunya menerbangkan pesawat kecil untuk mencari bahan kebutuhan, menjelajahi kawasan yang telah ditinggalkan, atau mengamati kondisi dunia yang berubah drastis.

Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi cerita untuk menggali kondisi psikologis karakter. Sayangnya, ritme yang tenang tidak selalu berhasil membuat setiap perjalanan Hig terasa memiliki bobot yang kuat.

Skenario yang ditulis Mark L. Smith berdasarkan novel karya Peter Heller juga masih menggunakan sejumlah elemen yang familiar dalam genre post-apokaliptik. Kehadiran kelompok penyintas brutal, keterbatasan persediaan, kawasan terpencil, hingga ancaman misterius menjadi bagian dari cerita.

Kelompok Reapers yang seharusnya menjadi salah satu sumber ancaman utama pun belum mendapatkan pengembangan karakter yang cukup. Akibatnya, mereka lebih terasa sebagai antagonis generik yang berfungsi untuk menciptakan konflik.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini