REVIEW Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah, Horor Misteri di Tengah Gejolak 1965
CINEMA XXI
Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah menghadirkan warna berbeda dalam genre horor Indonesia. Film garapan Hanung Bramantyo ini tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi menggabungkan misteri pembunuhan, teror supernatural, serta situasi sosial-politik Indonesia menjelang 1965.
Cerita berpusat pada Letnan Soegeng (Baskara Mahendra), seorang perwira yang mendapat tugas menyelidiki rangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya. Para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka berupa lubang di bagian punggung.
Pada awalnya, kasus tersebut tampak seperti perkara kriminal yang harus dipecahkan. Soegeng berusaha mencari kaitan antarkorban, mengetahui motif pembunuhan, dan menemukan pelaku di tengah masyarakat yang menyimpan berbagai rahasia.
Namun, penyelidikan kemudian berkembang ke arah yang lebih menyeramkan. Kemunculan sosok Hantu Bolong serta kejadian-kejadian aneh yang dialami Arum Wangi (Carissa Perusset), istri Soegeng, membuat batas antara kejahatan manusia dan gangguan supernatural semakin sulit dibedakan.
Film ini cukup berhasil menjaga rasa penasaran dengan memberikan informasi secara bertahap. Saat penonton mulai menduga telah menemukan jawaban, muncul petunjuk baru yang kembali mengubah arah misteri. Pertanyaan yang awalnya hanya berkisar pada identitas pelaku kemudian berkembang menjadi persoalan mengenai latar belakang kekerasan yang terjadi.
Horor Berlatar Ketegangan Sosial
Salah satu kekuatan film ini terletak pada cara Hanung menggunakan horor untuk menggambarkan kondisi sosial. Latar tahun 1964 tidak sekadar digunakan sebagai latar waktu, tetapi turut memperlihatkan ketegangan masyarakat, perebutan kepentingan, penyalahgunaan kekuasaan, dan kesenjangan sosial.
Film juga memasukkan konsep tujuh setan desa yang berkaitan dengan situasi politik pada masa tersebut. Meski demikian, Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah perlu dipahami sebagai karya fiksi, bukan rekonstruksi sejarah peristiwa G30S. Film memanfaatkan atmosfer sosial-politik menjelang 1965 sebagai fondasi cerita horornya.
Pendekatan ini membuat sumber teror tidak hanya berasal dari dunia gaib. Hantu dan ritual memang menjadi elemen penting, tetapi ambisi, kepentingan, serta rahasia manusia turut menjadi bagian dari konflik.
Dari segi visual, suasana pedesaan Indonesia pada era 1960-an dibangun melalui pencahayaan yang gelap dan penggunaan warna yang memperkuat nuansa misterius. Beberapa adegan kekerasan juga ditampilkan secara cukup eksplisit sehingga film terasa ditujukan untuk penonton dewasa.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Ungaran- Kabupaten Banyumas berhasil meraih juara umum…
Semarang — Sebanyak 1.000 peserta mengikuti DOSS Photolympic…
NYALANUSANTARA, SEMARANG- Maxim resmi menghadirkan layanan BikeXL di Semarang…
NYALANUSANTARA, KLATEN- Maxim menyalurkan santunan penggantian biaya pengobatan sebesar…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- UniPin, platform penyedia layanan produk digital, resmi…
Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkuat…
Semarang — Lebih dari 3.000 peserta mengikuti Semarang…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)…
NYALANNUSANTARA, YOGYAKARTA- Festival Pesta Boneka 2026 yang diinisiasi Papermoon…
NYALANUSANTARA, Kendal – Kabupaten Kendal memiliki potensi untuk…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Serangan yang menyasar Bandara Internasional Raja Khalid…

Komentar