REVIEW Sore: Istri dari Masa Depan – Sebuah Perjalanan Magis tentang Cinta dan Penyembuhan

REVIEW Sore: Istri dari Masa Depan – Sebuah Perjalanan Magis tentang Cinta dan Penyembuhan

Film Sore: Istri dari Masa Depan, adaptasi dari serial web dengan judul serupa, mengeksplorasi konsep perjalanan waktu bukan lewat logika ilmiah, melainkan melalui pendekatan magical realism. Di tangan sutradara Yandy Laurens, kisah ini menempatkan keajaiban cinta yang melampaui batas ruang dan waktu bukan untuk dipahami secara rasional, tapi untuk dirasakan secara emosional—dan hasilnya adalah narasi yang menyentuh.

Kita pertama kali berjumpa dengan Jonathan (Dion Wiyoko) di hamparan es Finlandia yang menakjubkan, dihiasi aurora, semua tertangkap apik oleh sinematografer Dimas Bagus Triatma Yoga. Keindahan visual menjadi kekuatan konstan film ini, namun kontras dengan kesendirian dan kekosongan batin tokohnya. Lanskap-lanskap Eropa seperti Finlandia dan Kroasia bukan sekadar latar indah, tetapi mencerminkan keterasingan dan kehampaan yang menghuni diri Jonathan.

Naskah yang ditulis sendiri oleh Yandy membagi cerita ke dalam tiga babak, ditandai dengan subjudul layar yang mencolok. Di babak awal berjudul "Jonathan", kita disuguhi simbolisme kuat—retakan di es yang menggambarkan keretakan perlahan dalam jiwa Jonathan, yang kian membeku dan terasing dari kehidupan.

Jonathan tinggal di Kroasia dengan harapan bisa menggelar pameran foto tunggal. Hanya Karlo (diperankan karismatik oleh Goran Bogdan), agen sekaligus satu-satunya teman, yang menemani. Namun sejatinya, teman terdekat Jonathan adalah alkohol dan rokok, yang mempercepat kehancuran dirinya. Ia peduli terhadap isu krisis iklim dan merekamnya melalui kamera, tapi lalai menyelamatkan dirinya sendiri.

Hingga suatu pagi, hidup Jonathan berubah ketika ia mendapati seorang perempuan asing duduk di sampingnya. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Sore (Sheila Dara Aisha), yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Kehadiran Sore tak dijelaskan secara ilmiah, melainkan hadir dengan aura magis—misterius namun menyenangkan. Sheila Dara tampil memukau, membawakan Sore sebagai figur yang penuh kelembutan sekaligus keteguhan, sementara Dion Wiyoko tampil sebagai sosok yang bisa kita refleksikan sebagai penonton: bingung, takut, tapi perlahan menemukan harapan.

Misi Sore jelas: menyelamatkan Jonathan dari nasib buruk—kematian akibat serangan jantung dalam waktu dekat. Ia mengubah kebiasaan buruk Jonathan: membuang alkohol dan rokok, memperbaiki pola makan, membiasakan tidur sehat, dan memperkenalkan lari pagi. Berbeda dari fenomena alam yang perlahan berubah dari terang ke gelap, kehadiran Sore justru menjadi cahaya bagi hidup Jonathan yang sebelumnya suram.

Namun, film ini bukanlah kampanye kesehatan. Bagi Yandy, luka emosional yang tak disembuhkan bisa jauh lebih merusak dibanding bahaya zat adiktif. Cinta, di mata film ini, adalah penawar utama, dan pasangan sejati adalah tabib yang mengobati luka-luka terdalam dengan kasih sayangnya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini