REVIEW Kitab Sijjin & Illiyyin: Horor Religi Gelap dari Perspektif Pelaku Santet

REVIEW Kitab Sijjin & Illiyyin: Horor Religi Gelap dari Perspektif Pelaku Santet

Kitab Sijjin & Illiyyin karya sutradara Hadrah Daeng Ratu menawarkan pendekatan berbeda dari mayoritas film horor religi Indonesia: alih-alih mengikuti tokoh korban atau pihak baik, film ini justru mengajak penonton menyelami sisi gelap pelaku santet sebagai protagonis utamanya.

Yuli (Yunita Siregar), yang sejak kecil hidup dalam penderitaan akibat perlakuan kejam ibu tiri dan saudara tirinya, akhirnya menyerah pada bisikan kegelapan. Tidak seperti kisah Cinderella yang memilih bertahan dan berharap, Yuli memilih jalur balas dendam dengan bantuan ilmu hitam dari seorang dukun bernama Pana (Septian Dwi Cahyo). Ia melakukan ritual santet keji menggunakan mayat segar sebagai media teluh. Visual efek praktikal yang digunakan dalam adegan ini ditampilkan cukup menjijikkan dan berhasil menggugah rasa tidak nyaman.

Plot film berfokus pada siklus kekerasan spiritual yang dilakukan Yuli: dari santet yang dilancarkan, hingga dampak mengerikan yang dirasakan para korban. Meski tidak mengandung kekerasan ekstrem, adegan seperti pecahan kaca menusuk kaki hingga kecoa merayap dari bola mata berhasil membangun teror yang efektif. Namun, karena tidak menyimpan banyak misteri, alurnya terasa repetitif dan bisa terasa monoton.

Judul film, yang merujuk pada dua kitab pencatat amal baik (Illiyyin) dan buruk (Sijjin), hanya dimanfaatkan sebagai simbolisme belaka. Potensi eksplorasi teologisnya luput dimaksimalkan. Namun, penampilan akting dari Yunita Siregar sebagai Yuli memberi kedalaman, menciptakan dilema moral yang kuat. Karakter Tika (Kawai Labiba), anak yang tetap taat dan sabar meski menderita, tampil sebagai kontras terang terhadap Yuli. Tika mewakili prinsip Illiyyin: kebaikan yang tetap teguh meski dihimpit keburukan.

Menariknya, film ini juga menyajikan tokoh ulama yang bukan hanya simbol spiritual, melainkan juga memiliki kekuatan fisik. Ustaz Abuya (David Chalik) menjadi pahlawan tak terduga di babak akhir film. Ia tak hanya memimpin doa, tapi juga terjun langsung membasmi kekuatan setan dengan tenaga dalam ala film laga spiritual.

Secara keseluruhan, Kitab Sijjin & Illiyyin adalah eksperimen berani dalam genre horor religi, menawarkan twist sudut pandang pelaku santet sebagai poros narasi. Meskipun terjebak dalam pola alur yang berulang dan kurang eksplorasi filosofis, film ini tetap berhasil memunculkan ketegangan dan refleksi moral tentang balas dendam, dosa, dan penebusan.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini