REVIEW The Conjuring: Last Rites, Drama Pasutri Warren yang Kehilangan Gigi Horor

REVIEW The Conjuring: Last Rites, Drama Pasutri Warren yang Kehilangan Gigi Horor

Alih-alih tampil sebagai horor penuh teror, The Conjuring: Last Rites justru lebih terasa seperti biopik dramatis tentang Ed dan Lorraine Warren. Film arahan Michael Chaves ini banyak menyoroti perjalanan emosional pasangan tersebut, termasuk hubungan dengan putri mereka, ketimbang menghadirkan kisah pengusiran setan yang segar.

Sejak pembuka, fokus diarahkan pada perjuangan Lorraine muda melahirkan Judy, sementara elemen horor hadir lewat cermin terkutuk yang kemudian menghantui keluarga Smurl. Drama keluarga bahkan lebih menonjol ketika Heather dan Dawn mencoba menyingkirkan artefak berbahaya itu, hingga akhirnya Ed dan Lorraine turun tangan membantu.

Naskah garapan Ian Goldberg, Richard Naing, dan David Leslie Johnson-McGoldrick memang berhasil menciptakan momen-momen haru, terutama berkat chemistry solid Patrick Wilson dan Vera Farmiga. Sayangnya, dari sisi horor, film ini justru terasa basi. Jumpscare yang dihadirkan generik, sementara Chaves terkesan hanya meniru formula James Wan tanpa mampu menumbuhkan ketegangan yang sama.

Puncaknya pun mengecewakan. Alih-alih menghadirkan pertarungan klimaks yang epik, film malah menampilkan wujud lawan pamungkas yang konyol, bahkan cameo Annabelle yang tampak seperti cuplikan b-movie murahan.

Secara keseluruhan, The Conjuring: Last Rites bukan kegagalan total, namun lebih kuat saat menampilkan kehangatan keluarga Warren daripada sebagai film horor. Sebuah penutup yang manis untuk drama pasutri legendaris ini, meski kehilangan taring menakutkan yang seharusnya jadi ciri khas waralaba.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini