ULASAN Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai, Horor dengan Kritik Sosial dari Masa Kolonial
Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai hadir sebagai salah satu rekomendasi tontonan horor akhir pekan. Film ini mengangkat kisah kelam praktik pemasungan di sebuah desa Indonesia pada era kolonial, dengan nuansa mencekam yang dipadukan kritik sosial.
Disutradarai Helfi C.H. Kardit, film horor psikologis ini membawa penonton kembali ke tahun 1920-an, saat Hindia Belanda masih berkuasa dan Universitas Stovia mulai melahirkan dokter pribumi yang penuh semangat idealisme.
Kisah berawal dari Giandra (Aditya Zoni), seorang dokter muda yang membaca berita di Javasche Courant tentang seorang gadis di Desa Karuhun yang dirantai karena dianggap gila. Praktik pemasungan itu kala itu dipercaya sebagai metode penyembuhan dengan bantuan dukun dan ritual mistis, sesuatu yang bertolak belakang dengan ilmu kedokteran yang diyakini Giandra.
Didorong rasa empati dan keyakinan pada sains, Giandra menempuh perjalanan jauh dengan pedati menuju desa tersebut. Di sana, ia bertemu dengan Rikke (Aurelia Lourdes), seorang jurnalis berdarah Belanda-pribumi yang menulis tentang kasus gadis itu. Rikke hanya meninggalkan tiga kata penting: Budaya, Mistisisme, dan Takhayul—kunci dalam memahami konflik batin yang muncul.
Gadis yang dirantai bernama Layla (Aisha Kastolan). Ia bukan hanya korban secara fisik, tetapi juga cerminan tragedi sosial akibat ketidaktahuan dan tradisi mengekang. Giandra berusaha menolong Layla lewat pendekatan medis, namun warga tetap teguh pada ritual kuno. Pergulatan antara sains dan kepercayaan inilah yang membuat ketegangan semakin terasa.
Lebih dari sekadar horor, film ini juga memuat lapisan kritik sosial: pentingnya pendidikan, kesadaran kesehatan mental, dan perlindungan hak-hak individu—terutama bagi anak dan perempuan. Praktik pemasungan, yang bahkan masih tercatat hingga era modern, menjadi sorotan utama.
Secara visual, suasana mencekam dibangun dengan sinematografi gelap, pencahayaan dramatis, serta sudut kamera yang menekan psikologis. Bukan hanya menakutkan, tapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman yang perlahan menghantui penonton.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, GROBOGAN- Film horor Indonesia terus berkembang, dan Arwah…
NYALANUSANTARA, SEOUL- Episode terbaru drama medis Resident Playbook telah…
Terkini
NYALANUSANTARA, GANGNAM- Kim Se Jeong siap mengeluarkan jurus pamungkasnya…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film bertabur bintang The Man Who…
NYALANUSANTARA, SEOUL- Film kriminal terbaru Project Y kembali mencuri…
Setelah 15 tahun berlalu, 3 Idiots akhirnya akan…
NYALANUSANTARA, MUMBAI- Border 2 menjadi salah satu film paling…
Menjelang akhir 2025, Mertua Ngeri Kali muncul sebagai…
Qorin 2 kembali menghantui layar lebar dengan konsep…
NYALANUSANTARA, BOGOR- Geely kembali menarik perhatian industri otomotif global…
NYALANUSANTARA, Kebumen – Bank Jateng menunjukkan komitmennya dalam…
NYALANUSANTARA, Semarang – PDAM Tirta Moedal Kota Semarang…
NYALANUSANTARA, Banyumas – PT KAI Daop 5 Purwokerto…
Komentar