RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Generasi Berprestasi dan Bebas Stunting? Berikan Makanan Pendamping ASI Kaya Lauk Hewani

INDONESIA memasuki tahun politik pada tahun 2024. Generasi yang berprestasi sangat dibutuhkan untuk Indonesia semakin maju. Sumber daya manusia tidak akan berprestasi apabila anak usia dibawah lima tahun (Balita) mengalami masalah gizi atau kesehatan. Stunting sebagai masalah kekurangan gizi kronik sehingga berdampak pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat masih menjadi masalah pada balita. 

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 masih sebesar 21,6% dan perlu upaya besar untuk mencapai target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%. Stunting dapat dicegah dengan pemenuhan gizi yang optimal pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu dari sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun.   

Sejak lahir sampai bayi usia 6 bulan harus mendapatkan ASI eksklusif, melalui terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI saja yang diberikan kepada bayi kapanpun bayi membutuhkan (on demand). Kandungan gizi ASI terutama zat besi sudah tidak mencukupi kebutuhan bayi usia 6 bulan. Makanan yang mendampingi ASI (MP-ASI) harus diberikan supaya kebutuhan gizi bayi tercukupi dan bayi bisa belajar makan. Pemberian ASI tetap dilanjutkan semau bayi. 

Makanan pendamping ASI diberikan dengan memenuhi syarat tepat waktu, adekuat dan berkualitas, aman dan diberikan dengan cara yang benar. Prinsip pemberian MP-ASI sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meliputi:

1. Tekstur 
Bayi usia 6- 9 bulan diberikan tekstur makanan semi cair, tidak lagi cair. Dapat berupa makanan keluarga dengan komposisi sumber makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan lemak yang dihaluskan lalu disaring. Buah juga bisa dilumatkan diberikan sebagai selingan. Tekstur dapat ditingkatkan secara bertahap. Bayi usia 9- 12 bulan mendapatkan tekstur makanan cincang. Makanan pokok keluarga yang lengkap sumber zat gizi dapat dicincang halus bertahap sampai cincang kasar. Buah bisa diiris kecil, supaya bisa dipegang bayi dan dimakan sebagai selingan.

Anak Usia 12 - 23 bulan telah bisa diberikan makanan padat. Makanan keluarga dengan komposisi lengkap telah bisa diberikan langsung ke anak.  

2. Frekuensi
Pemberian makan pada usia 6 - 9 bulan bisa 2 kali makanan utama, 1 - 2 kali makanan selingan. Frekuensi bisa ditingkatkan 3 - 4 kali makanan utama dan 1- 2 kali untuk pemberian MP-ASI pada usia 9 bulan - 24 bulan.

3. Porsi
Porsi MP-ASI untuk bayi usia 6 bulan cukup 3 sendok makan. Bertahap dapat ditingkatkan sampai setengah mangkok yang ukuran 250 ml pada usia 7 - 9 bulan. Peningkatan porsi hingga 3/4 mangkok sampai usia 12 bulan. Usia 12 - 24 bulan telah bisa diberikan porsi bertahap sampai 1 mangkok. 

Hasil yang cukup memprihatinkan dari survei SSGI adalah risiko terjadinya stunting meningkat sebesar 1,6 kali dari kelompok umur 6-11 bulan ke kelompok umur 12-23 bulan (13,7% ke 22,4%). Hal ini menunjukkan ‘kegagalan’ dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI). 

Studi yang dilakukan oleh Headey et.al (2018) menyatakan bahwa ada bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan yang berasal dari hewani. Penelitian ini juga menunjukkan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), konsumsi telur, daging, susu dan produk turunannya di Indonesia termasuk yang rendah di dunia: konsumsi telur antara 4-6 kg/tahun; dan konsumsi susu dan produk turunannya 0-50 kg/orang/tahun. 

Lauk hewani tidak harus mahal, sesuaikan yang mudah didapat dengan harga terjangkau. Ikan bandeng, Ikan lele, Telur puyuh, telur ayam, hati ayam merupakan contoh sumber protein hewani yang mudah didapat di Kota Semarang. Menu untuk bayi bisa menggunakan menu keluarga, jadi ibu tidak perlu repot masak sendiri- sendiri. 

Pemberian makan dan menyusui yang baik akan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemantauan pertumbuhan dan anak anak perlu dilakukan setiap bulan. Apabila berat badan anak tidak bertambah dan perkembangan tidak meningkat sesuai standar, maka bisa diperiksakan ke tenaga kesehatan terdekat. Anak belajar makan berawal dari keluarga. Yuk Ayah dukung dan bantu ibu menyusui dan memberikan makanan pendamping ASI kaya protein hewani untuk anak berprestasi. 

*Sri Hapsari SP., M. Gizi 
Dosen Gizi Unimus Dan Konselor Pemberian Makan Bayi Dan Anak (PMBA)
 


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Redaksi

Komentar

Baca Juga

Terkini