RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Pakar UGM Jelaskan Potensi Rempah-Rempah Indonesia di Dunia Internasional

Kala itu, kata Umi Barjiah, setidaknya terdapat 83 lahan kebun pala yang digabung atau dibeli oleh pemilik kebun pala lainnya, sehingga tersisa 34 kebun di Kepulauan Banda, 25 di Pulau Lonthor, 6 di Pulai Aij, serta 3 di Neira.

Komoditas rempah-rempah masih menjadi komoditas andalan yang diekspor Indonesia. Terbukti dengan tingginya perdagangan lada, cengkeh, pala, hingga kayu manis ke negara-negara Eropa. 

Menurut ahli dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, MAgr, potensi rempah-rempah itu bisa menjadikan ketahanan pangan Indonesia lebih kuat dibanding negara lain. Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Negara ASEAN, Indonesia masih menduduki peringkat 4 di bawah Vietnam. Padahal, dengan kondisi geografis yang menguntungkan, potensi agraria harusnya mampu mendongkrak ketahanan pangan nasional.

“Kita dalam kondisi serius, kondisi memprihatinkan. Itu menurut indeks global. Rempah-rempah ini tumbuh dengan mudah di negara tropis, perawatan dan ketahanannya juga mudah. Mudah diusahakan dengan skala kecil dan skala besar. Pangsa pasarnya itu diperkirakan ada 8,4 miliar dollar pada akhir 2028,” tutur Prof. Djagal. 

Menurutnya pasar herbal dan rempah-rempah kering dunia diprediksi akan naik terus di masa depan. Peluang ini tentunya sangat menjanjikan bagi komoditas rempah Indonesia.

Tak hanya rempah-rempah, stinky beans atau kacang-kacangan dengan bau menyengat, seperti petai dan jengkol juga memiliki potensi tinggi. Tanaman petai dan jengkol tumbuh subur di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Lahan-lahan petai dan jengkol umumnya dimiliki oleh warga secara mikro dan menyebar, tidak dalam satu lahan yang besar. 

“Proses produksi dan distribusi perdagangan petai ini masih kurang baik. Pengangkutan dilakukan besar-besaran, ditumpuk, untuk menghemat biaya. Padahal, kalau diperhatikan petai setelah dipanen masih melakukan respirasi, dan ini berpengaruh terhadap kualitas petai tersebut,” papar dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Supriyadi, MSc. 


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Redaksi

Komentar

Baca Juga

Terkini