Ahli Energi Terbarukan UNAIR Tanggapi Isu Penerapan EBT di Nusa Penida Bali
Red - 03 Maret 2024 - VestibulaNYALANUSANTARA, Surabaya - Indonesia, dengan potensi alamnya yang luar biasa, kini semakin menapaki jalan menuju sumber energi baru terbarukan (EBT).
Dengan mengandalkan sumber daya dari angin, surya, air, biomassa, dan geotermal, Indonesia menggarisbawahi komitmennya untuk mengembangkan EBT sebagai alternatif utama dalam sektor energi.
Salah satu daerah yang gencar memperjuangkan penerapan EBT adalah Nusa Penida. Terletak di bawah naungan pemerintah Bali yang telah mencanangkan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2045, Nusa Penida berambisi untuk menjadi pusat EBT dengan target menerapkan 100 persen energi terbarukan pada tahun 2030.
Menanggapi langkah ini, Prisma Megantoro ST MEng, seorang ahli energi baru terbarukan dari Universitas Airlangga (UNAIR), memberikan wawasan. Menurutnya, EBT memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat yang luar biasa bagi lingkungan dan masyarakat.
"EBT merupakan energi bersih dan ramah lingkungan yang tidak melibatkan pembakaran bahan bakar fosil seperti diesel atau batu bara," ungkap Prisma.
Namun, Prisma juga menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menerapkan EBT, terutama karena topografi yang beragam dan aksesibilitas yang berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Meskipun demikian, dia yakin bahwa dengan keseriusan dan komitmen yang tepat, penerapan EBT di Indonesia, termasuk di Nusa Penida, dapat menjadi kenyataan.
Salah satu potensi energi yang tinggi di Indonesia adalah energi angin dan surya. Potensi ini terutama tinggi di wilayah seperti Pulau Jawa bagian Selatan, Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Sulawesi.
Namun, tantangan distribusi dan akomodasi perlu diatasi untuk memastikan pemanfaatan potensi ini secara optimal.
“Namun, Indonesia juga memiliki tantangan dalam penerapan EBT. Hal tersebut berdasar pada topologinya yang bervariatif, dengan belasan ribu pulau di Indonesia. Adanya dataran tinggi dan rendah juga menyebabkan sulit-sulit gampang dalam menerapkannya. Terlebih aksesibilitas antara perkotaan dan perdesaan juga berbeda,” ucap Prisma.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Admin
Komentar
Baca Juga
Pengabdian Tanpa Lelah: Alumnus FK UNDIP Ahli Mata untuk Masyarakat Papua
Ilmu 5 jam lalu
UNDIP Perkuat Kedaulatan Teknologi Plasma Nasional melalui “Indonesian Plasma Research Consortium”
Ilmu 7 jam lalu
Kuliah Umum Food Tech UDB Surakarta: Sinergi Agribisnis dan Teknologi Pangan untuk Kedaulatan Pangan
Ilmu 13 jam lalu
Satuan Pendidikan Aman Bencana Langkah Strategis Mengubah Peran Sekolah Penanggulangan Bencana
Ilmu 2 hari lalu
512 Pramuka Siaga Ikuti LKS 2026 Kwarran Mijen di SDN Karangmalang
Ilmu 3 hari lalu
Terkini
Review The Mummy (2026): Horor Gelap yang Brutal, Namun Kurang Membekas
Sinema 21 menit lalu
Review Ustaad Bhagat Singh: Aksi Besar, Eksekusi Kurang Maksimal
Sinema 1 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 2 jam lalu
Review Bhooth Bangla: Horor Komedi Penuh Nostalgia dan Tawa
Sinema 2 jam lalu
Artotel Group Meluncurkan Praktik Dining Berkelanjutan “REBELLIOUS HUNGER”
Ekbis 3 jam lalu
Bocoran Honor Baterai 11.000mAh: Siap Jadi Raja Daya Tahan?
Tekno 3 jam lalu
Perkuat Mutu Produk, KAI Services Hadirkan Laboratorium Quality Control
Ragam Nusantara 4 jam lalu
Bocoran Xiaomi 18 Pro: Hadirkan Tombol AI dan Desain Lebih Futuristik
Tekno 4 jam lalu
Pengabdian Tanpa Lelah: Alumnus FK UNDIP Ahli Mata untuk Masyarakat Papua
Ilmu 5 jam lalu
Suharsono Tekankan Pentingnya Implementasi Perda untuk Dampak Nyata di Masyarakat
Ragam Nusantara 6 jam lalu
Kerajinan Tangan Naik Daun, Tanda Menguatnya Experience Economy di Tiongkok
Ragam Nusantara 7 jam lalu