RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Jujutsu Kaisen S3 Episode 4: Mahakarya Visual yang Lupa Membangun Hati

Episode keempat musim ketiga Jujutsu Kaisen adalah sebuah pencapaian visual yang luar biasa. Level aksi, koreografi, dan intensitas yang disajikan terasa lebih pantas untuk layar lebar ketimbang serial mingguan. MAPPA kembali membuktikan dominasinya, menyuguhkan animasi yang bukan hanya teknisnya mengesankan, tetapi juga penuh simbolisme, ritme, dan keberanian artistik.

Yang lebih mengejutkan: episode ini juga menyenangkan.

Di tengah hujan darah dan kekerasan ekstrem, ada iringan musik yang justru membuat semua itu terasa seperti momen pembebasan bagi tokoh utamanya, Maki. Beberapa adegan bahkan terasa begitu berlebihan hingga lebih cocok berada dalam fatality Mortal Kombat ketimbang anime shonen arus utama. Dan anehnya—itu bekerja.

Andai saja saya benar-benar peduli pada semua orang yang terlibat.

Serangan Maki dan Ledakan Kekerasan Total

Episode ini sepenuhnya berfokus pada satu peristiwa: pembantaian klan Zenin oleh Maki. Sebagai pembaca manga, saya ingat betul bagaimana gaya gambar Gege Akutami menjadi jauh lebih kasar dan brutal pada bagian ini—bahkan sampai memaksanya mengambil jeda karena alasan kesehatan. Namun justru kekasaran visual itu yang membuat arc ini begitu berkesan di versi cetaknya.

Adaptasi anime berhasil menerjemahkan energi mentah tersebut ke tingkat yang lebih tinggi. Terasa jelas inspirasi ala Kill Bill dalam bagaimana kekerasan disajikan: cepat, tanpa kompromi, dan penuh gaya.

Dalam waktu sekitar 28 menit, episode ini memuat begitu banyak peristiwa besar:

Kematian Mai

Transformasi total Maki

Pembunuhan ayahnya sendiri

Pemusnahan hampir seluruh klan Zenin

Hingga penghancuran Naoya Zenin secara brutal

Sejak menit pertama, episode ini tidak pernah mengendur. Ia berlari, menghantam, dan menghancurkan tanpa memberi penonton waktu bernapas.

Masalah Lama: Emosi yang Dipaksakan

Namun di balik semua kemegahan visual itu, ada perasaan tidak nyaman yang sulit diabaikan: apakah tontonan ini digunakan sebagai jalan pintas untuk emosi yang tidak dibangun dengan baik?

Maki memang selalu menjadi karakter yang simpatik—terpinggirkan, diremehkan, dan tertindas oleh sistem klan Zenin yang misoginis dan elitis. Tapi sepanjang serial, ia lebih sering didefinisikan melalui karakter lain seperti Yuta atau Toji, bukan sebagai sosok dengan perjalanan emosional yang berdiri sendiri.

Hubungan Maki dan Mai pun mengalami masalah serupa. Mereka memang memiliki beberapa momen penting di musim pertama, tetapi dinamika itu nyaris tidak pernah disentuh lagi. Akibatnya, pengorbanan Mai—yang seharusnya menjadi titik emosional terbesar episode ini—terasa lebih seperti mekanisme peningkatan kekuatan daripada tragedi yang benar-benar menghancurkan hati.

Secara konseptual, semuanya masuk akal. Secara emosional? Kurang menggigit.

Naoya: Simbol yang Terlalu Cepat Dihancurkan

Secara tematik, sangat tepat jika Maki menghabisi Naoya. Ia adalah personifikasi hidup dari sistem Zenin: nepotisme, seksisme, dan kekuasaan yang diwariskan tanpa empati. Masalahnya, kita baru saja melihat Naoya dipermalukan di episode sebelumnya.

Meskipun secara naratif ia diposisikan sebagai tokoh penting, kehadirannya di layar belum cukup untuk membuat kehancurannya terasa katarsis. Ketika momen ini dibedah lebih jauh, dampaknya sedikit melemah—bukan karena ide yang buruk, tetapi karena kurangnya waktu dan kedalaman karakterisasi.

Kesimpulan: Otak Mati, Mata Terbuka Lebar

Terlepas dari semua kritik itu, satu hal tidak bisa disangkal: episode ini luar biasa untuk ditonton.

Ini adalah tipe episode yang mengajak Anda mematikan otak, menikmati kekacauan, dan tenggelam dalam aksi tanpa henti. MAPPA kembali melampaui standar mereka sendiri, menghadirkan salah satu episode aksi shonen paling mengesankan dalam beberapa tahun terakhir.

Saya hampir yakin klip episode ini akan menemani banyak rutinitas pra-olahraga hingga akhir tahun.

Saya masih berharap Jujutsu Kaisen suatu hari akan menyelaraskan animasi brilian ini dengan penulisan karakter yang lebih matang—atau setidaknya lebih memahami postur, framing, dan makna emosional yang selama puluhan tahun membuat shonen pertempuran begitu ikonik.

Namun setelah episode ini, satu hal jelas:
Jujutsu Kaisen telah kembali. Dan sejauh soal tontonan murni, ia terasa lebih buas dari sebelumnya.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini