Pemkab Gunungkidul Luncurkan Gerakan "MasGun Maos"
Helmi Idham - 17 Desember 2025 - RegionalNYALANUSANTARA, Magelang- Pemerintah Kabupaten Gunungkidul resmi meluncurkan gerakan "MasGun Maos" yang merupakan singkatan dari Masyarakat Gunungkidul Mandiri Olah Sampah. Peluncuran gerakan ini disertai dengan sosialisasi pengolahan sampah organik menggunakan metode ember tumpuk, dan berlangsung dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2025.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian khusus. "Setiap hari, masyarakat Gunungkidul memproduksi sekitar 380 ton sampah. Angka ini dihitung berdasarkan rata-rata 0,49 kg sampah per orang per hari," paparnya.
Dari jumlah tersebut, 47% di antaranya adalah sampah organik, yang sebagian besar berasal dari sisa olahan dapur dan sisa makanan. Hary juga menjelaskan bahwa metode pengolahan sampah yang diterapkan dalam gerakan ini menggunakan teknik sederhana namun efektif, yaitu dengan ember tumpuk dan jugangan, yang memanfaatkan kearifan lokal.
"Metode jugangan memanfaatkan lahan di pedesaan untuk membuat lubang sampah, yang kemudian bisa diolah menjadi pupuk kompos (rabuk) saat musim tanam," tambahnya.
Sebelumnya, DLH Gunungkidul telah meluncurkan tagline "Hompimpah" yang berarti Hobi Memilah dan Punguti Sampah dari Rumah. Gerakan "MasGun Maos" merupakan lanjutan dari upaya tersebut, yang mendorong masyarakat untuk mengolah sampah secara mandiri.
Gerakan ini didukung oleh dua surat edaran Bupati Gunungkidul pada tahun 2025 dan diintegrasikan dengan Gerakan Pengembangan Pangan dan Gizi (Gerbang Pagi) dari Dinas Pertanian dan Pangan. Melalui integrasi ini, sampah organik yang diolah menjadi kompos dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan budidaya pangan keluarga, dan sisa makanan dapat digunakan sebagai pakan ternak rumah tangga, seperti ayam dan bebek.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyampaikan bahwa masalah sampah menjadi perhatian utama di Daerah Istimewa Yogyakarta, mengingat beberapa laporan menyebutkan status darurat sampah di Yogyakarta. "MasGun Maos ini diinisiasi sebagai semangat untuk mengolah sampah organik di rumah masing-masing, dengan tujuan menjaga alam kita agar tidak longsor atau banjir," ujar Endah saat memberikan arahan di Bangsal Sewokoprojo pada Selasa 16 Desember 2025.
Endah juga menekankan peran penting Tim Penggerak PKK di semua tingkatan dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya, serta manfaat pengolahan sampah yang dapat diubah menjadi pupuk untuk mendukung pertanian dan peternakan keluarga.
Acara peluncuran gerakan "MasGun Maos" ini dihadiri oleh Bupati Gunungkidul, Sekretaris Daerah Sri Suhartanta, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Pertanian, serta seluruh jajaran Ketua Tim Penggerak PKK se-Kabupaten Gunungkidul.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Redaksi
Komentar
Baca Juga
Canton Fair ke-139 Tampilkan Inovasi Robot Layanan di Guangzhou
Ragam Nusantara 54 menit lalu
Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel
Ragam Nusantara 10 jam lalu
Ekspor Durian Beku Indonesia ke China Melesat, Capai Ribuan Ton
Ragam Nusantara 19 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 23 jam lalu
Perkuat Mutu Produk, KAI Services Hadirkan Laboratorium Quality Control
Ragam Nusantara 1 hari lalu
Terkini
Canton Fair ke-139 Tampilkan Inovasi Robot Layanan di Guangzhou
Ragam Nusantara 54 menit lalu
Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel
Ragam Nusantara 10 jam lalu
Ekspor Durian Beku Indonesia ke China Melesat, Capai Ribuan Ton
Ragam Nusantara 19 jam lalu
Xiaomi Hadirkan Robot Vacuum H50 Series di Indonesia, Solusi Bersih Pintar Hingga 15.000Pa
Tekno 20 jam lalu
Mahasiswa UNAIR Tembus ASEAN, Gagas Eduventure untuk Pendidikan Daerah 3T
Ilmu 21 jam lalu
Ford RMA Indonesia Resmi Buka FEC Sunter Guna Perkuat Komitmen Jangka Panjang di Indonesia
Lifestyle 21 jam lalu
Review The Mummy (2026): Horor Gelap yang Brutal, Namun Kurang Membekas
Sinema 22 jam lalu
Review Ustaad Bhagat Singh: Aksi Besar, Eksekusi Kurang Maksimal
Sinema 23 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 23 jam lalu
Review Bhooth Bangla: Horor Komedi Penuh Nostalgia dan Tawa
Sinema 1 hari lalu
Artotel Group Meluncurkan Praktik Dining Berkelanjutan “REBELLIOUS HUNGER”
Ekbis 1 hari lalu