Amerika Serikat Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Mesir: Berisiko Rugikan Negara Berkembang
- 12 Januari 2026 - Manca NegaraNYALANUSANTARA, Jakarta— Seorang pakar politik Mesir menilai keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan partisipasi dan pendanaan pada puluhan organisasi internasional berpotensi merugikan negara-negara berkembang serta melemahkan kerja sama global yang selama ini menopang tata kelola internasional.
Pakar hubungan internasional Abu-Bakr Al-Desouky, penasihat editorial majalah International Politics di Al-Ahram Foundation, mengatakan penarikan diri AS dapat memangkas pendanaan penting yang selama ini membantu operasi berbagai organisasi di kawasan berkembang. Ia memperkirakan dampaknya dapat mengurangi skala program pembangunan, kemanusiaan, dan bantuan internasional yang dijalankan lembaga-lembaga tersebut.
Pernyataan Al-Desouky muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada 7 Januari 2026 menandatangani memorandum yang memerintahkan pemerintah AS menarik diri dari 66 organisasi internasional—terdiri dari 31 entitas terkait Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 entitas non-PBB— yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS.
Menurut keterangan Gedung Putih, organisasi yang ditinggalkan mencakup bidang iklim, tenaga kerja, migrasi, hingga energi. Pemerintah AS menyatakan sebagian lembaga tersebut mendorong kebijakan yang dianggap bertentangan dengan “kedaulatan” dan “kekuatan ekonomi” AS. Dalam pernyataan terpisah, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut sejumlah entitas yang ditinggalkan sebagai “boros, tidak efektif, atau merugikan”.
Beberapa lembaga yang disebut dalam laporan terkait penarikan AS antara lain Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), serta badan-badan PBB lain seperti UNFPA dan UN Women. Reuters melaporkan langkah itu menjadikan AS negara pertama yang keluar dari UNFCCC.
Dari pihak PBB, Sekretariat Jenderal menyampaikan penyesalan dan menegaskan bahwa kontribusi tertentu bersifat kewajiban hukum sesuai aturan PBB, meski AS mengumumkan penarikan dari sejumlah badan terkait PBB.
Al-Desouky juga menilai kebijakan ini dapat berdampak pada citra global Washington dan mendorong negara berkembang mencari kemitraan lain yang dianggap lebih konsisten mendukung agenda pembangunan. Ia menambahkan, dinamika tersebut berpotensi memperkuat gagasan tatanan dunia yang lebih multipolar—meski itu merupakan pandangan analis, bukan keputusan resmi lembaga internasional.
Langkah terbaru ini melanjutkan kebijakan penarikan AS dari sejumlah forum global pada periode sebelumnya, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Perjanjian Iklim Paris, dan penghentian keterlibatan pada Dewan HAM PBB, sebagaimana dilaporkan media internasional.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua
Komentar
Baca Juga
Canton Fair ke-139 Tampilkan Inovasi Robot Layanan di Guangzhou
Ragam Nusantara 1 jam lalu
Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel
Ragam Nusantara 10 jam lalu
Ekspor Durian Beku Indonesia ke China Melesat, Capai Ribuan Ton
Ragam Nusantara 19 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 1 hari lalu
Perkuat Mutu Produk, KAI Services Hadirkan Laboratorium Quality Control
Ragam Nusantara 1 hari lalu
Terkini
Review Ghost in the Cell: Horor Absurd Penuh Kritik Sosial yang Berani
Sinema 6 menit lalu
Canton Fair ke-139 Tampilkan Inovasi Robot Layanan di Guangzhou
Ragam Nusantara 1 jam lalu
Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel
Ragam Nusantara 10 jam lalu
Ekspor Durian Beku Indonesia ke China Melesat, Capai Ribuan Ton
Ragam Nusantara 19 jam lalu
Xiaomi Hadirkan Robot Vacuum H50 Series di Indonesia, Solusi Bersih Pintar Hingga 15.000Pa
Tekno 20 jam lalu
Mahasiswa UNAIR Tembus ASEAN, Gagas Eduventure untuk Pendidikan Daerah 3T
Ilmu 21 jam lalu
Ford RMA Indonesia Resmi Buka FEC Sunter Guna Perkuat Komitmen Jangka Panjang di Indonesia
Lifestyle 21 jam lalu
Review The Mummy (2026): Horor Gelap yang Brutal, Namun Kurang Membekas
Sinema 22 jam lalu
Review Ustaad Bhagat Singh: Aksi Besar, Eksekusi Kurang Maksimal
Sinema 23 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 1 hari lalu
Review Bhooth Bangla: Horor Komedi Penuh Nostalgia dan Tawa
Sinema 1 hari lalu