Eskalasi Konflik AS-Iran Dinilai Ancam Stabilitas Ekonomi Global, Termasuk Indonesia
Fatih Tarusbawa - 02 Maret 2026 - Manca NegaraNYALANUSANTARA, Jambi – Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, mengungkapkan kekhawatirannya terkait eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meletus pada Sabtu, 28 Februari 2026. Menurutnya, konflik ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
"Konflik ini dapat memicu tiga tekanan besar bagi Indonesia: krisis energi, tekanan fiskal, dan gejolak moneter. Namun, dengan cadangan devisa yang cukup kuat dan respons kebijakan yang cepat, Indonesia masih memiliki ruang untuk mencegah resesi yang lebih dalam,” ujar Noviardi dalam keterangannya di Jambi baru-baru ini.
Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent Crude yang melambung hingga 18 persen, mencapai US$79 per barel, hanya merupakan tahap awal dari potensi gejolak yang lebih besar. Noviardi memperingatkan, jika konflik meluas dan mengganggu Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak ke angka US$130 hingga US$150 per barel, yang akan menjadi alarm keras bagi negara pengimpor minyak bersih seperti Indonesia.
“Indonesia sangat bergantung pada impor minyak yang mencapai sekitar 50 persen. Kenaikan harga minyak akan memperbesar beban subsidi BBM, LPG, dan listrik, yang diperkirakan bisa mencapai triliunan rupiah,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan ini berisiko memperlebar defisit fiskal dan memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang tidak populer, seperti penyesuaian harga energi domestik. "Jika harga energi dinaikkan, inflasi bisa menembus 5 persen. Namun, jika tidak dinaikkan, defisit fiskal akan semakin besar. Ini adalah dilema fiskal yang dihadapi pemerintah," tegas Noviardi.
Di sisi moneter, Noviardi memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah hampir tidak terhindarkan. Arus modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset aman seperti dolar AS dan emas berisiko menekan nilai tukar rupiah serta pasar keuangan domestik, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar obligasi pemerintah yang dapat terkoreksi tajam.
Noviardi memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menghadapi pilihan sulit antara menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi cadangan devisa atau menaikkan suku bunga 7-day reverse repo rate untuk meredam volatilitas. "Koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan harus solid, serta komunikasi kebijakan yang kredibel sangat penting untuk mencegah panic selling," tambahnya.
Dampak dari ketegangan ini, lanjut Noviardi, juga diprediksi akan terasa di sektor riil. Kenaikan biaya energi dan logistik diperkirakan akan meningkatkan harga impor pangan dan bahan baku industri. Hal ini bisa menggerus daya beli masyarakat, sementara sektor manufaktur akan menghadapi tekanan margin akibat peningkatan ongkos produksi.
Sementara itu, ekonomi Iran sendiri diperkirakan mengalami kehancuran berat, dengan inflasi yang sudah melampaui 40 persen dan depresiasi rial yang hampir mencapai 95 persen, akibat sanksi dan kerusakan infrastruktur. Di sisi lain, Amerika Serikat juga diperkirakan akan menghadapi konsekuensi fiskal yang besar akibat beban perang, yang berpotensi menambah utang nasionalnya yang sudah melampaui US$35 triliun.
Untuk meredam risiko tersebut, Noviardi mendorong pemerintah Indonesia untuk mempercepat diversifikasi sumber energi dan tidak hanya bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Ia juga menyarankan agar Indonesia membuka kontrak jangka panjang dengan negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Australia.
Selain itu, penguatan cadangan devisa di atas US$150 miliar serta pemberian stimulus yang lebih terarah, seperti bantuan langsung tunai energi bagi kelompok rentan, dianggap sebagai langkah yang realistis untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Redaksi
Komentar
Baca Juga
Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel
Ragam Nusantara 6 jam lalu
Ekspor Durian Beku Indonesia ke China Melesat, Capai Ribuan Ton
Ragam Nusantara 15 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 20 jam lalu
Perkuat Mutu Produk, KAI Services Hadirkan Laboratorium Quality Control
Ragam Nusantara 22 jam lalu
Suharsono Tekankan Pentingnya Implementasi Perda untuk Dampak Nyata di Masyarakat
Ragam Nusantara 1 hari lalu
Terkini
Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel
Ragam Nusantara 6 jam lalu
Ekspor Durian Beku Indonesia ke China Melesat, Capai Ribuan Ton
Ragam Nusantara 15 jam lalu
Xiaomi Hadirkan Robot Vacuum H50 Series di Indonesia, Solusi Bersih Pintar Hingga 15.000Pa
Tekno 16 jam lalu
Mahasiswa UNAIR Tembus ASEAN, Gagas Eduventure untuk Pendidikan Daerah 3T
Ilmu 17 jam lalu
Ford RMA Indonesia Resmi Buka FEC Sunter Guna Perkuat Komitmen Jangka Panjang di Indonesia
Lifestyle 18 jam lalu
Review The Mummy (2026): Horor Gelap yang Brutal, Namun Kurang Membekas
Sinema 18 jam lalu
Review Ustaad Bhagat Singh: Aksi Besar, Eksekusi Kurang Maksimal
Sinema 19 jam lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 20 jam lalu
Review Bhooth Bangla: Horor Komedi Penuh Nostalgia dan Tawa
Sinema 20 jam lalu
Artotel Group Meluncurkan Praktik Dining Berkelanjutan “REBELLIOUS HUNGER”
Ekbis 21 jam lalu
Bocoran Honor Baterai 11.000mAh: Siap Jadi Raja Daya Tahan?
Tekno 21 jam lalu