RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

CINEMA XXI

ULASAN Setan Alas!, Horor Meta yang Berani Mainkan Klise Film Seram

Di tengah maraknya film horor Indonesia dengan pola cerita yang serupa, film Setan Alas! hadir membawa pendekatan berbeda. Disutradarai oleh Yusron Fuadi, film ini tidak sekadar mengandalkan kemunculan hantu atau efek kejut semata, tetapi juga memainkan berbagai “aturan” yang selama ini identik dengan genre horor.

Sejak awal, film ini sudah memberi sinyal bahwa ceritanya tidak akan berjalan secara konvensional. Premisnya memang dimulai dengan pola klasik, namun perlahan berkembang menjadi kisah yang lebih liar dan tak terduga.

Liburan Mahasiswa Berujung Teror

Cerita mengikuti lima mahasiswa—Budi, Ani, Iwan, Wati, dan Amir—yang memutuskan berlibur ke sebuah villa tua di tengah hutan. Awalnya perjalanan tersebut terasa seperti liburan santai untuk melepas penat dari aktivitas kampus.

Namun suasana berubah drastis ketika salah satu dari mereka ditemukan tewas secara misterius. Ketakutan mulai menyelimuti kelompok itu. Mereka mencoba meninggalkan villa dan mencari jalan keluar melalui hutan, tetapi setiap jalan yang mereka ambil justru membawa mereka kembali ke tempat yang sama.

Situasi ini membuat mereka merasa seperti terjebak dalam lingkaran tak berujung, seolah ada kekuatan gaib yang mengendalikan keadaan.

Horor yang “Sadar” dengan Klise Genre

Keunikan film ini muncul ketika cerita mulai menyinggung berbagai klise yang sering muncul dalam film horor. Para karakter bahkan secara terbuka membicarakan elemen-elemen yang biasanya dianggap wajib dalam cerita horor—seperti villa tua yang angker, ruangan terlarang, sumur misterius, hingga teknik jump scare yang mudah ditebak.

Pendekatan ini membuat film terasa lebih segar karena penonton tidak hanya diajak merasakan ketegangan, tetapi juga melihat bagaimana sebuah film horor dibangun. Konsep tersebut mengingatkan pada film horor meta seperti The Cabin in the Woods dan Scream, yang sama-sama bermain dengan kesadaran karakter terhadap aturan genre horor.

Nuansa Film Independen

Salah satu hal yang terasa kuat dari film ini adalah nuansa film independen yang kental. Setan Alas! tampak seperti proyek yang penuh eksperimen dan keberanian mencoba ide-ide baru.

Beberapa adegan bahkan terasa seperti parodi terhadap film horor itu sendiri. Dari sisi visual, film ini memadukan efek digital dengan efek praktikal yang memberi variasi dalam adegan-adegan penting.

Belum Sempurna, Tapi Punya Karakter

Meski menawarkan konsep segar, film ini masih memiliki sejumlah kekurangan. Akting sebagian pemain terasa belum sepenuhnya matang, terutama karena film cukup mengandalkan dialog untuk membangun cerita.

Di bagian awal, ritme cerita juga terasa agak tidak stabil. Penyuntingan yang terlalu cepat membuat beberapa percakapan terasa kurang mengalir. Selain itu, aturan dunia cerita yang dibangun film ini tidak selalu dijelaskan secara jelas, sehingga beberapa elemen terasa menggantung.

Angin Segar untuk Horor Indonesia

Terlepas dari kekurangannya, Setan Alas! tetap menjadi tontonan menarik yang menunjukkan bahwa genre horor Indonesia masih memiliki ruang untuk bereksperimen.

Dengan pendekatan yang lebih berani dan sedikit “nakal” terhadap formula lama, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda dari kebanyakan horor lokal. Mungkin bukan film yang sempurna, tetapi keberaniannya bermain dengan konsep membuat Setan Alas! terasa segar dan layak mendapat perhatian, terutama bagi penonton yang mulai jenuh dengan pola horor yang itu-itu saja.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini