Sinema Asia Modern Terus Tampakkan Tajinya dalam Meracik Warisan Budaya
- 04 September 2025 - SinemaNYALANUSANTARA, Jakarta- Para moviegoer serta pencinta film dan anime di Indonesia memadati bioskop-bioskop tanah air, pada 15 Agustus 2025. Sebagian unjuk gigi dengan mengenakan cosplay karakter favorit mereka, sementara yang lain tampak antre membeli popcorn sambil membicarakan satu judul yang tengah hangat, "Demon Slayer: Infinity Castle" (2025).
Anime garapan studio Ufotable iti bukan sekadar hiburan semata, tetapi telah menjelma menjadi fenomena global, termasuk di Indonesia.
Antusiasme terhadap film ini memang luar biasa. Di hari pertama penayangan saja, "Demon Slayer: Infinity Castle" berhasil meraih lebih dari 461.000 penonton, rekor pembukaan terbesar untuk film anime di Indonesia. Dilansir dari situs web Cinepoint, sebuah aplikasi rating film dan box office di Indonesia, per 29 Agustus 2025, film ini telah ditonton lebih dari 2,28 juta orang, menjadikannya film anime terlaris sepanjang masa di Indonesia, melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh "One Piece Film: Red" (2022), dengan meraup lebih dari ratusan miliar.
"Saya sangat menikmati 'Demon Slayer: Infinity Castle'. Anime ini sangat bagus, memadukan nuansa tradisional dan energi modern, grafiknya luar biasa, serta memiliki alur cerita yang seru dan menegangkan. Nilai-nilai perjuangannya pun begitu menyentuh," kata Septri (29), salah satu penggemar berat anime tersebut kepada Xinhua pada Jumat (15/8).
Demon Slayer yang diadaptasi dari manga berjudul sama, sekilas mungkin tampak seperti pertarungan ala shounen pada umumnya: pahlawan muda, iblis jahat, teknik pedang hebat. Namun di balik itu terdapat nuansa tradisi Jepang yang kuat. Berlatar di zaman Taisho, anime ini memadukan nilai-nilai lama seperti kehormatan keluarga dan spiritualitas yang mengingatkan kita pada filosofi samurai, serta teknik pernapasan yang berakar pada disiplin diri.
Demon Slayer menunjukkan bagaimana cerita tradisional Jepang yang berakar pada nilai lama bisa disajikan dalam format modern, dengan sinematografi canggih dan visual efek yang memukau, membuatnya relevan bagi audiens global.
Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, sinema Asia, terkhusus dari China, Jepang, Korea, Thailand, hingga Indonesia, terus memperlihatkan taringnya dalam meracik warisan budaya menjadi kisah yang relevan bagi era modern. Tidak hanya dalam segi visual, tapi juga dalam kedalaman cerita yang menggambarkan bagaimana manusia berjuang dengan nilai-nilai lama yang masih membentuk, membatasi, atau bahkan memberikan arah dalam hidup mereka.
Narasi Kuno dalam Bingkai Baru
Salah satu kekuatan utama sinema Asia adalah kemampuan menghidupkan kembali cerita-cerita lama, bukan sekadar meromantisasi masa lalu, tetapi sebagai ruang reinterpretasi yang segar, relevan, bahkan progresif. Tradisi tak lagi disuguhkan sebagai sesuatu yang kaku dan kuno, melainkan sebagai bahan baku narasi yang bisa diolah dengan sudut pandang baru sesuai zaman.
Contohnya terlihat jelas dalam "The Handmaiden" (2016) karya Park Chan-wook. Meski diadaptasi dari novel Inggris era Victoria, film ini ditransformasikan ke konteks Korea saat penjajahan Jepang, menambahkan lapisan kompleks tentang identitas nasional, relasi kuasa, dan dinamika kelas sosial. Gaya berceritanya yang sensual dan penuh intrik tetap berakar pada rasa "Timur" yang khas, menciptakan jembatan unik antara budaya asing dan lokal.
Contoh lain datang dari film animasi "Ne Zha" (2019) serta "Ne Zha 2" (2025) asal China. Diangkat dari mitologi kuno, karakter Nezha yang dulu dikenal sebagai dewa pemberontak kini dimaknai ulang sebagai simbol anak muda yang melawan stigma dan prediksi buruk yang dilekatkan padanya sejak lahir. Lewat pendekatan ini, Ne Zha tak hanya menghidupkan legenda lama, tetapi juga menyuarakan isu kontemporer seperti stereotipe sosial, tekanan identitas, dan kebebasan memilih jalan hidup sendiri. Film ini menjadi simbol perlawanan terhadap takdir yang dipaksakan oleh masyarakat dan harapan akan kebebasan individu di dunia modern.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua
Komentar
Baca Juga
Review Ustaad Bhagat Singh: Aksi Besar, Eksekusi Kurang Maksimal
Sinema 28 menit lalu
Review Bhooth Bangla: Horor Komedi Penuh Nostalgia dan Tawa
Sinema 1 jam lalu
SINOPSIS Gohan: Heart of Home, Kisah Haru tentang Kesetiaan dan Arti Kehadiran
Sinema 23 jam lalu
SINOPSIS Ip Man: Kung Fu Legend, Aksi Legendaris Penuh Konflik dan Perjuangan di Hong Kong
Sinema 1 hari lalu
SINOPSIS Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Drama Keluarga Penuh Emosi Tayang Mei 2026
Sinema 1 hari lalu
Terkini
Review Ustaad Bhagat Singh: Aksi Besar, Eksekusi Kurang Maksimal
Sinema 28 menit lalu
Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang
Ragam Nusantara 1 jam lalu
Review Bhooth Bangla: Horor Komedi Penuh Nostalgia dan Tawa
Sinema 1 jam lalu
Artotel Group Meluncurkan Praktik Dining Berkelanjutan “REBELLIOUS HUNGER”
Ekbis 2 jam lalu
Bocoran Honor Baterai 11.000mAh: Siap Jadi Raja Daya Tahan?
Tekno 2 jam lalu
Perkuat Mutu Produk, KAI Services Hadirkan Laboratorium Quality Control
Ragam Nusantara 3 jam lalu
Bocoran Xiaomi 18 Pro: Hadirkan Tombol AI dan Desain Lebih Futuristik
Tekno 3 jam lalu
Pengabdian Tanpa Lelah: Alumnus FK UNDIP Ahli Mata untuk Masyarakat Papua
Ilmu 4 jam lalu
Suharsono Tekankan Pentingnya Implementasi Perda untuk Dampak Nyata di Masyarakat
Ragam Nusantara 5 jam lalu
Kerajinan Tangan Naik Daun, Tanda Menguatnya Experience Economy di Tiongkok
Ragam Nusantara 6 jam lalu
Ayoo Ikuti! Pemerintah akan Lelang Sukuk Negara Rp12 Triliun pada 21 April 2026
Ekbis 6 jam lalu