Pakar: Durian Indonesia Miliki Peluang Tembus Pasar China

Pakar: Durian Indonesia Miliki Peluang Tembus Pasar China

NYALANUSANTARA, Jakarta- Durian Indonesia akhirnya memiliki kesempatan untuk berekspansi ke pasar China yang sangat menjanjikan, terutama setelah kesepakatan protokol ekspor durian beku telah tercapai dalam pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri China Li Qiang pada akhir bulan lalu.

"Durian Indonesia memiliki peluang besar di pasar China, tergantung bagaimana kita bisa memproduksi durian yang dapat bersaing dengan durian dari negara lain," kata peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian kepada Xinhua pada Selasa (24/6).

China merupakan negara dengan konsumsi durian terbesar di dunia dengan volume impor tahun lalu mencapai 1,5 juta ton. Kendati demikian, Indonesia hampir sama sekali tidak ikut serta meramaikan pasar durian China yang menggiurkan tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari total hampir 2 juta ton produksi durian Indonesia tahun lalu, hanya 27 ton yang dikirim ke China, bahkan sepanjang Januari-Mei 2025 belum ada ekspor durian sama sekali ke negara itu. Indonesia terpaut jauh di bawah Thailand dan Vietnam.

Eliza mengatakan kendala utama bagi durian Indonesia untuk masuk pasar China selama ini adalah faktor logistik dan perizinan. Jarak yang jauh membuat pengiriman durian segar dari Indonesia lebih lama dibandingkan Thailand, yang tentunya akan berpengaruh dari sisi kualitas.

Sementara itu, aspek perizinan tampaknya kini bukan lagi kendala serius, karena kesepakatan protokol ekspor durian beku baru-baru ini tentu telah membuka kesempatan bagi petani Indonesia. Melalui protokol ini, Badan Karantina Indonesia menjadi regulator yang dipercayai otoritas China untuk memastikan aspek keamanan pangan terhadap produk durian beku yang nanti akan dikirim ke China.

Eliza mendorong pemerintah agar semakin gencar memberikan berbagai dukungan terhadap petani seperti sosialisasi yang masif terkait persyaratan ekspor, memfasilitasi sertifikasi kesehatan tumbuhan atau fitosanitari, akses permodalan, hingga membangun jaringan logistik dan infrastruktur yang memadai seperti gudang penyimpanan beku.


Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini