Legenda Pulau Kemaro sebagai Simbol Harmoni dan Warisan Budaya Tionghoa di Sumatra Selatan

Legenda Pulau Kemaro sebagai Simbol Harmoni dan Warisan Budaya Tionghoa di Sumatra Selatan

NYALANUSANTARA, PALEMBANG- Pulau Kemaro, sebuah pulau kecil di Sungai Musi di Provinsi Sumatra Selatan, telah menjadi bagian penting dalam sejarah kebudayaan Palembang sejak abad ke-17. Melalui legenda cinta antara Siti Fatimah dan Tan Bun An, pulau ini merekam jejak awal pertemuan masyarakat lokal dan etnis Tionghoa. Pagoda yang menjulang, kelenteng tua, serta tradisi perayaan Cap Go Meh menjadi penanda kuat akulturasi yang masih terasa hingga kini. Lebih dari sekadar tempat bersejarah, Pulau Kemaro adalah simbol keberagaman yang saling mengakar.

 ASAL-USUL LEGENDA PULAU KEMARO

   Di tengah derasnya arus Sungai Musi, berdiri sebuah delta kecil berjuluk Pulau Kemaro yang letaknya sekitar 6 kilometer dari pusat Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan. Berasal dari kata "kemarau", nama "Kemaro" sendiri diberikan karena konon pulau ini tidak pernah tenggelam meskipun Sungai Musi meluap saat musim hujan. 

   Pulau ini juga pernah menjadi lokasi benteng maritim Kesultanan Palembang pada awal abad ke-19, berkat lokasinya yang kering dan strategis. Pulau Kemaro terkenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kisah cinta tragis yang menjadi legenda turun-temurun.

   Alkisah, Pulau Kemaro berawal dari kisah tragis antara Siti Fatimah, putri kerajaan Palembang, dan Tan Bun An, saudagar muda dari China. Mereka jatuh cinta saat Tan Bun An datang ke Palembang untuk berdagang. Ketika hendak menikah, Tan Bun An mengajak Siti Fatimah ke China untuk bertemu dengan orang tua Tan Bun An. Ketika pamit pulang, keluarga Tan Bun An menghadiahi tujuh guci berisi emas sebagai mahar, tetapi emas tersebut disembunyikan menggunakan sawi asin agar tidak dicuri. 

   Sesampainya di perairan Sungai Musi, Tan Bun An membuka guci-guci tersebut. Betapa terkejutnya dia saat menemukan bahwa isinya hanyalah sawi asin. Tanpa berpikir panjang dan tenggelam dalam amarah, dia membuang guci-guci itu ke sungai karena mengira isinya hanya sawi. Namun, guci terakhir terjatuh dan pecah di atas perahu layar. Ternyata, di dalam guci tersebut tersimpan emas.

Foto yang diabadikan pada 6 Agustus 2025 ini menunjukkan makam Siti Fatimah dan Tan Bun An yang berada di dalam Kelenteng Hok Tjing Bio di Pulau Kemaro di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan. (Xinhua/Mushaful Imam)

   Seketika Tan Bun An langsung melompat ke sungai untuk mencari emas-emas tersebut, diikuti oleh seorang pengawal yang membantunya. Setelah beberapa lama, keduanya tak kunjung muncul, sehingga Siti Fatimah pun ikut melompat untuk menolong. Namun, ketiganya tidak pernah terlihat kembali. 

   Menurut legenda, tak lama setelah kejadian itu, muncul sebuah daratan kecil di tempat mereka tenggelam. Daratan tersebut sekarang dikenal sebagai Pulau Kemaro. Di pulau itu, terdapat makam sederhana yang dipercaya sebagai tempat terakhir keduanya. Kisah ini menjadi simbol cinta sejati yang melampaui perbedaan budaya dan menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Tionghoa di Palembang.


Editor: Lulu
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini