SINOPSIS Mercy: Ketika Keadilan Diserahkan Sepenuhnya pada Mesin

SINOPSIS Mercy: Ketika Keadilan Diserahkan Sepenuhnya pada Mesin

Bayangkan sebuah ruang sidang tanpa hakim manusia. Tak ada palu sidang, juri, ataupun pembelaan panjang dari pengacara. Gambaran masa depan inilah yang dihadirkan film Mercy—sebuah dunia yang terasa futuristik, namun menakutkan karena terdengar masuk akal.

Film thriller fiksi ilmiah ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 21 Januari 2026. Sejak diumumkan, Mercy langsung mencuri perhatian karena mengangkat isu sensitif: sistem keadilan yang sepenuhnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan.

Keadilan Tanpa Emosi

Berlatar tahun 2029 di Los Angeles, Mercy menggambarkan dunia di mana manusia menganggap emosi sebagai sumber kesalahan terbesar dalam hukum. Solusinya adalah menyerahkan seluruh proses peradilan kepada AI bernama Judge Maddox.

AI ini bukan sekadar alat bantu. Ia bertindak sebagai hakim, juri, sekaligus algojo. Setiap putusan didasarkan pada data, statistik, dan perhitungan probabilitas. Ketika tingkat kemungkinan bersalah melewati ambang batas tertentu, hukuman langsung dijatuhkan—tanpa perdebatan dan tanpa hak banding.

Sistem ini dipuja karena dianggap efisien, cepat, dan kebal manipulasi. Namun Mercy justru menyoroti konsekuensi kelam dari keadilan yang terlalu “sempurna”.

Detektif yang Menjadi Korban Ciptaannya Sendiri


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini