ULASAN The Housemaid (2025): Thriller Psikologis Penuh Manipulasi di Balik Rumah Tangga Sempurna

ULASAN The Housemaid (2025): Thriller Psikologis Penuh Manipulasi di Balik Rumah Tangga Sempurna

Film The Housemaid (2025) menjadi salah satu thriller psikologis yang paling banyak dibicarakan menjelang akhir tahun. Diadaptasi dari novel laris karya Freida McFadden dan digarap oleh sutradara Paul Feig, film ini pada awalnya tampak seperti drama perselingkuhan yang akrab bagi penonton Indonesia. Tak heran jika sebagian orang langsung menyebutnya sebagai “La Tahzan versi Hollywood”. Namun, anggapan itu hanya berlaku di permukaan. Di balik premis sederhana, The Housemaid menyimpan cerita yang jauh lebih kelam, licik, dan penuh permainan psikologis.

Sinopsis The Housemaid

Kisah film ini mengikuti Millie Calloway (Sydney Sweeney), seorang perempuan muda yang berusaha bangkit dan memulai hidup baru. Kesempatan tersebut datang ketika ia diterima bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah pasangan kaya raya, Nina Winchester (Amanda Seyfried) dan Andrew Winchester (Brandon Sklenar).

Dari luar, keluarga Winchester terlihat nyaris sempurna. Rumah mewah, kehidupan berkecukupan, dan pernikahan yang tampak harmonis menciptakan ilusi keluarga ideal. Namun, seiring waktu, ilusi itu runtuh. Nina menunjukkan emosi yang tidak stabil, sementara sikap Andrew menyimpan banyak tanda tanya. Perlahan, Millie terjerat dalam hubungan rumah tangga yang sarat manipulasi, trauma, dan rahasia kelam, hingga batas antara siapa korban dan siapa pelaku menjadi semakin samar.

Lebih Gelap dari Sekadar Drama Perselingkuhan

Pada paruh awal, The Housemaid memang bergerak seperti drama domestik konvensional. Ketegangan dibangun lewat percakapan, bahasa tubuh, dan konflik emosional yang terasa halus namun menekan. Namun, Paul Feig dengan sengaja memainkan ekspektasi penonton. Ketika cerita terasa mulai mudah ditebak, arah film berubah drastis menjadi thriller psikologis bergaya klasik, mengingatkan pada film-film era 90-an seperti Fatal Attraction dan Basic Instinct.

Berbagai twist disajikan secara perlahan. Sebagian mungkin bisa ditebak oleh penonton yang terbiasa dengan genre ini, tetapi tetap mampu menghadirkan sensasi emosi yang naik turun, terutama bagi mereka yang belum membaca novelnya. Sepanjang film, penonton terus diajak bertanya: siapa sebenarnya yang paling berbahaya?


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini