Yang Hansen Lakukan Debut Center Rookie dan Soroti Prospeknya di NBA

Yang Hansen Lakukan Debut Center Rookie dan Soroti Prospeknya di NBA

NYALANUSANTARA, Jakarta- Center rookie Portland Trail Blazers, Yang Hansen, mengambil langkah penting dalam proses pengembangannya lewat debut solid bersama Rip City Remix, tim pengembangan Blazers di kompetisi G League. Penampilannya memperlihatkan sekelumit potensi yang sejak awal diyakini manajemen Blazers, sekaligus menegaskan bahwa perjalanan menuju level NBA masih penuh tantangan.

Setelah tersingkir sementara dari rotasi utama Portland, Yang memanfaatkan kesempatan di G League sebaik mungkin pada pertandingan Jumat (14/11) malam waktu setempat, membantu Remix mencetak kemenangan dramatis 107-104 atas Valley Suns. 

Bermain selama 29 menit, big man setinggi 7 kaki 1 inci (sekitar 2,16 meter) itu mencatat delapan poin, 13 rebound, empat assist, satu steal, dan satu blok dengan memasukkan empat dari 11 percobaan tembakan. 

Meskipun bukan penampilan tanpa cela, di mana dia gagal memasukkan dua kesempatan tembakan dari garis 3 poin dan melakukan tiga pelanggaran, performanya menunjukkan variasi skill yang dimilikinya. Dia meraih lima rebound ofensif, mencetak poin dari put-back, dan menampilkan sentuhan umpan yang membuatnya menarik saat malam draft.

Salah satu momen krusial terjadi ketika Yang memberikan assist dalam skema backdoor kepada Jayson Kent, memicu rentetan 14 poin tanpa balas yang mengamankan kemenangan Remix setelah sempat tertinggal hingga 22 poin.

Debut tersebut juga menghadirkan duel menarik melawan Khaman Maluach, pilihan nomor 10 dalam Draft NBA 2025. Meski tidak ada yang benar-benar mendominasi, pertemuan itu menjadi tolok ukur awal untuk melihat perkembangan Yang melawan prospek berbakat level NBA.

Penugasan ke G League ini terjadi setelah awal musim yang berat di NBA. Yang tampil dalam lima pertandingan awal Portland, mencatat rata-rata hanya 1,8 poin dan 0,8 rebound dalam menit penampilan yang terbatas. 

Dengan kembalinya Robert Williams III, Yang tergeser dari rotasi yang sudah padat oleh Donovan Clingan, Duop Reath, dan Williams. Imbasnya, dia tidak dimainkan dalam enam pertandingan berturut-turut sebelum akhirnya diturunkan ke G League.

Analis menilai performa awalnya secara terbuka. Kekhawatiran yang dibawanya dari CBA, terutama soal kecepatan, fisikalitas, dan kesadaran bertahan, tampak jelas. Masalah pelanggaran saat pramusim dan kesulitan menyesuaikan diri dengan standar atletik NBA memperlambat proses adaptasinya. 

Dalam program Sideline Story di CGTN, komentator menyebut bahwa Yang terlihat kewalahan menghadapi tempo permainan, mengutip momen "welcome to the NBA" saat Jaden McDaniels dari Minnesota Timberwolves melakukan dunk tepat di atasnya dalam laga debut musim reguler pada 23 Oktober.

Meski begitu, staf pelatih Portland menekankan pentingnya kesabaran. Pelatih interim Tiago Splitter, yang juga mantan center NBA, menjelaskan bahwa fokus pengembangan Yang adalah belajar bertahan tanpa melakukan pelanggaran, beradaptasi dengan kontak fisik, memperbaiki posisi bertahan, disiplin dalam rebound, serta membangun kondisi fisik setara NBA. 

Splitter memuji etos kerja Yang, terutama kegigihannya di ruang gym dan kesediaannya ikut berlatih bersama Remix.

Namun, sorotan publik semakin tajam. Sebagian analis menilai keputusan Portland memilih Yang di urutan ke-16 (setelah menukar pilihan dari posisi ke-11) mulai dipertanyakan. Apalagi ketika pemain yang mereka lewatkan, termasuk Cedric Coward, justru tampil menjanjikan. 

Start lambat Yang memunculkan anggapan bahwa dia merupakan "proyek jangka panjang" yang dipilih di saat Blazers justru membutuhkan kontribusi instan.

Di sisi lain, banyak yang mengingatkan bahwa kondisi seperti ini sangat umum bagi pemain big man muda. Banyak rookie di pertengahan hingga akhir putaran pertama yang juga jarang mendapat menit bermain, menandakan bahwa rookie yang langsung berdampak itu benar-benar langka. 

Dengan usia baru 20 tahun, kemampuan passing yang unik, sentuhan tembakan yang lembut, serta footwork menarik, banyak yang percaya potensi pengembangan Yang tetap tinggi, asal dia mendapat struktur pengembangan yang tepat dan waktu yang cukup.

Untuk saat ini, G League menjadi tempat yang sesuai bagi perkembangannya, yakni menit bermain konsisten, lingkungan yang lebih sederhana, dan ruang untuk membangun kembali kepercayaan diri. Remix memproyeksikan dia akan tampil dalam dua laga tandang berikutnya sebelum kembali ke Blazers.

Hansen mungkin belum siap sepenuhnya untuk NBA hari ini, tetapi taruhan jangka panjang Portland terhadap potensinya masih kokoh. Debutnya di G League memang belum menjawab semua keraguan, tetapi setidaknya memberi satu hal penting di awal perjalanannya, yakni bukti bahwa dia sedang bergerak ke arah yang benar. 


Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini