RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Ketahanan Energi RI Disorot, Pengamat Ekonomi Ini Ingatkan Efek Berantai

NYALANUSANTARA, Jakarta- Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk risiko gangguan jalur distribusi minyak dunia. Ketahanan energi menjadi isu krusial bagi setiap negara. Perbedaan kapasitas cadangan minyak kini tidak lagi sekadar indikator teknis, tetapi menjadi ukuran nyata kesiapan menghadapi krisis.

Kesenjangan cadangan minyak antara negara anggota International Energy Agency dan negara non-anggota menunjukkan fakta keras tentang ketahanan energi global.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai Indonesia berada dalam posisi yang belum aman dan membutuhkan koreksi kebijakan secara serius.

Data menunjukkan cadangan operasional BBM Indonesia hanya berada di kisaran 20–25 hari konsumsi nasional, jauh di bawah standar minimum 90 hari yang direkomendasikan IEA.

Sebagai perbandingan, Jepang memiliki cadangan sekitar 200 hari, Korea Selatan di atas 200 hari, bahkan beberapa negara Eropa melampaui 300 hari. “Indonesia masih di sekitar 20 hari. Ini bukan sekadar tertinggal, tapi masuk kategori rentan,” ujar Noviardi, dalam keterangan resminya, Jumat, 27 Maret 2026.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya pada rendahnya angka cadangan, tetapi pada struktur ketahanan energi yang belum kuat. Indonesia masih mengandalkan stok operasional badan usaha, bukan cadangan strategis nasional seperti yang dimiliki negara maju.

“Artinya, stok kita itu berjalan, bukan disiapkan untuk krisis. Ini membuat daya tahan kita sangat terbatas saat terjadi shock global,” jelasnya.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Redaksi

Komentar

Baca Juga

Terkini