RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Mahasiswa Indonesia di China Bahas Peluang Kerja Sama Dua Negara

NYALANUSANTARA, BEIJING- Sidang tahunan "Dua Sesi" Tiongkok telah lama menjadi jendela penting bagi dunia untuk mengamati tren kebijakan dan pembangunan Tiongkok. Dalam "Dua Sesi" tahun ini, sebuah draf garis besar Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) dirilis, yang berisi sejumlah informasi tentang arah pembangunan Tiongkok di masa mendatang. Baru-baru ini, beberapa pemuda Indonesia yang hidup di Tiongkok berbagi pandangan mereka mengenai isi dalam draf itu yang menjadi fokus mereka, serta menceritakan harapan mereka perihal prospek kerja sama Indonesia-Tiongkok.

   Sebagai mahasiswa jurusan kesenian di Universitas Seni Guangxi, Tandika Putri telah lama fokus pada dinamika pembangunan kecerdasan buatan (AI), khususnya penerapan AI dalam memberdayakan pembangunan kesenian tradisional.

   Draf Rencana Lima Tahun ke-15 tersebut menyebut Tiongkok akan secara menyeluruh mengadopsi pendekatan "AI+" dan mendorong pemberdayaan AI ke berbagai industri. Menurut Tandaka, Tiongkok sangat memandang penting perkembangan teknologi AI dan pemanfaatannya, sehingga membuka peluang kerja sama AI antara Indonesia dan Tiongkok.

   “Saya berharap suatu hari terdapat sebuah platform interaksi musik yang berbasis AI dan dibangun bersama Indonesia dan Tiongkok, khususnya untuk musik rakyat dan klasik, sehingga pelestarian budaya tradisional kedua negara kita mendapat dorongan dari kemajuan teknologi,” ujar Tandika, seraya menyatakan harapannya agar semakin banyak pemuda Indonesia mendapat kesempatan untuk mempelajari teknologi AI dari Tiongkok.

   Sementara itu, Alvin Candra Andrianto merupakan penggemar berbagai teknologi futuristik. “Saya pernah menjajal taksi otonomos di China dan menyaksikan berbagai teknologi yang ajaib di sini,” kata Alvin.

   Alvin terkesan dengan poin-poin seperti kendaraan terhubung cerdas (intelligent Connected Vehicle ), kedirgantaraan, teknologi penyebaran dan antarmuka otak-komputer yang tercantum dalam draf tersebut. “Sejumlah kerabat saya bekerja di perusahaan Tiongkok dan saya sendiri merasakan manfaat kerja sama Indonesia dengan Tiongkok,” ujar Alvin, dan menambahkan, “Semoga nanti kita melihat lebih banyak kerja sama di bidang teknologi mutakhir.”

   Di sisi lain, Meli, seorang dosen asal Bandung yang kini bekerja di China, menyatakan setelah beberapa kali menaiki kereta cepat Whoosh, dia yakin kerja sama Indonesia dan China dalam pembangunan infrastruktur telah membawa manfaat nyata, baik bagi transportasi maupun pertumbuhan ekonomi regional.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu
Sumber: Xinhua

Komentar

Baca Juga

Terkini