RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

ULASAN Primate: Horor Ringkas dengan Teror Sederhana yang Efektif

Film ini juga tidak segan menampilkan kekerasan secara frontal. Adegan-adegan brutal disajikan secara eksplisit dan cukup ekstrem, menegaskan bahwa Primate memang ditujukan bagi penonton dewasa. Meski demikian, kekerasan tersebut tetap berfungsi untuk memperkuat ancaman, bukan sekadar sensasi kosong.

Ben, Pusat Teror yang Mengesankan

Karakter Ben menjadi daya tarik utama sepanjang film. Melalui penggunaan efek praktikal dan gerakan yang terasa realistis, sosok simpanse ini tampil hidup sekaligus mengintimidasi. Perubahan ekspresi dan sikapnya menciptakan rasa tidak nyaman, terlebih karena sebelumnya Ben digambarkan sebagai makhluk yang jinak dan penuh kehangatan.

Para pemain pendukung tampil cukup solid. Johnny Sequoyah meyakinkan sebagai Lucy, yang terjebak antara rasa sayang dan ketakutan. Troy Kotsur juga memberikan nuansa emosional sebagai ayah yang berusaha melindungi keluarganya, meski porsi perannya tidak terlalu besar.

Horor Lugas yang Mengutamakan Hiburan

Primate tidak berpretensi menjadi horor kompleks. Alurnya berjalan lurus, karakter mudah dikenali, dan konflik disajikan tanpa banyak percimpangan. Beberapa elemen memang terasa klise, namun masih wajar dalam konteks film yang menargetkan hiburan murni.

Film ini terasa seperti penghormatan pada horor monster klasik, di mana ancaman fisik menjadi pusat cerita, bukan eksplorasi psikologis yang berlarut-larut.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini