RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

ULASAN Primate: Horor Ringkas dengan Teror Sederhana yang Efektif

Film Primate hadir tanpa ambisi berlebihan. Sejak awal, film ini dengan jelas menunjukkan jati dirinya sebagai horor yang lugas, cepat, dan bertumpu pada satu sumber ancaman utama. Di tangan sutradara Johannes Roberts, Primate tidak berusaha menyelipkan lapisan makna filosofis atau pesan simbolik yang berat. Film ini memilih pendekatan yang aman namun tepat sasaran: membangun ketegangan dari bahaya nyata yang perlahan lepas kendali.

Dengan durasi kurang dari 90 menit, Primate terasa padat dan langsung mengarah ke konflik utama. Penonton tidak disuguhi pengantar bertele-tele, melainkan segera diajak masuk ke inti cerita yang menjadi fondasi ketegangan film.

Kisah Keluarga dan Simpanse yang Berubah Menjadi Ancaman

Cerita berfokus pada Lucy yang kembali ke rumah keluarganya di Hawaii setelah lama pergi. Kepulangannya mempertemukan kembali dirinya dengan sang ayah, Adam, adik perempuannya Erin, serta Ben—seekor simpanse yang telah lama hidup bersama keluarga mereka. Ben bukan sekadar peliharaan, melainkan dianggap bagian dari keluarga dan menjadi peninggalan emosional dari ibu mereka yang telah wafat, seorang peneliti simpanse.

Kehidupan yang semula tampak normal mulai berubah ketika Ben digigit hewan liar dan terinfeksi rabies. Perilakunya perlahan bergeser, dari gelisah hingga berubah menjadi sosok yang agresif dan mematikan. Ketegangan meningkat saat Lucy datang bersama teman-temannya, tanpa menyadari bahwa ancaman terbesar justru berada di dalam rumah.

Teror dari Situasi Terisolasi

Kekuatan utama Primate terletak pada setting dan situasi. Rumah keluarga yang berada di tepi tebing dan jauh dari pemukiman menciptakan rasa terkurung. Ketika Ben mulai menyerang, pilihan untuk melarikan diri nyaris tidak ada. Ketegangan muncul bukan dari kejutan murahan, melainkan dari tekanan situasi yang terus meningkat.

Film ini juga tidak segan menampilkan kekerasan secara frontal. Adegan-adegan brutal disajikan secara eksplisit dan cukup ekstrem, menegaskan bahwa Primate memang ditujukan bagi penonton dewasa. Meski demikian, kekerasan tersebut tetap berfungsi untuk memperkuat ancaman, bukan sekadar sensasi kosong.

Ben, Pusat Teror yang Mengesankan

Karakter Ben menjadi daya tarik utama sepanjang film. Melalui penggunaan efek praktikal dan gerakan yang terasa realistis, sosok simpanse ini tampil hidup sekaligus mengintimidasi. Perubahan ekspresi dan sikapnya menciptakan rasa tidak nyaman, terlebih karena sebelumnya Ben digambarkan sebagai makhluk yang jinak dan penuh kehangatan.

Para pemain pendukung tampil cukup solid. Johnny Sequoyah meyakinkan sebagai Lucy, yang terjebak antara rasa sayang dan ketakutan. Troy Kotsur juga memberikan nuansa emosional sebagai ayah yang berusaha melindungi keluarganya, meski porsi perannya tidak terlalu besar.

Horor Lugas yang Mengutamakan Hiburan

Primate tidak berpretensi menjadi horor kompleks. Alurnya berjalan lurus, karakter mudah dikenali, dan konflik disajikan tanpa banyak percimpangan. Beberapa elemen memang terasa klise, namun masih wajar dalam konteks film yang menargetkan hiburan murni.

Film ini terasa seperti penghormatan pada horor monster klasik, di mana ancaman fisik menjadi pusat cerita, bukan eksplorasi psikologis yang berlarut-larut.

Pada akhirnya, Primate adalah film horor yang memahami batasannya. Dengan cerita sederhana, ketegangan yang konsisten, dan teror yang terasa nyata, film ini berhasil menyuguhkan pengalaman horor yang efektif. Bagi penonton yang mencari tontonan horor singkat tanpa perlu berpikir rumit, Primate bisa menjadi pilihan yang tegang sekaligus memuaskan.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini