ULASAN GOAT: Kisah Underdog Penuh Warna tentang Mimpi Besar dan Keberanian Melawan Stigma
PANJI PRATAMA PUTRA - 16 Februari 2026 - SinemaFilm animasi GOAT hadir dengan premis sederhana namun dekat dengan realitas: mimpi besar dapat tumbuh dari siapa saja, bahkan dari mereka yang kerap dipandang sebelah mata. Diproduksi oleh Sony Pictures Animation dan disutradarai oleh Tyree Dillihay, film ini menggabungkan genre olahraga dengan dunia hewan antropomorfik yang penuh warna dan energi.
Sejak awal, GOAT tak menutupi penggunaan formula klasik film olahraga: sosok underdog, konflik tim, hingga momen kebangkitan menjelang laga penentuan. Daya tarik utamanya bukan pada alur yang mengejutkan, melainkan pada cara cerita dikemas—melalui gaya visual berani dan nuansa segar yang membuat kisah lama terasa hidup kembali.
Dunia Vineland dan Olahraga Roarball
Cerita mengikuti Will Harris, seekor kambing muda yang bercita-cita menjadi pemain roarball, olahraga mirip basket dengan tempo lebih keras dan liar. Karakter Will diisi suaranya oleh Caleb McLaughlin, yang berhasil menampilkan perpaduan semangat, kerentanan, dan tekad.
Di dunia Vineland, ukuran tubuh adalah segalanya. Hewan besar menguasai lapangan, sementara hewan kecil seperti Will dicap sebagai “smalls” yang dianggap tak layak bersaing. Slogan “Smalls can’t ball” menjadi stigma sosial yang terus menghantui.
Kesempatan Will datang secara tak terduga ketika aksinya di lapangan jalanan viral di media sosial. Ia direkrut ke tim Vineland Thorns yang dipimpin oleh Jett Fillmore, bintang panther karismatik yang disuarakan oleh Gabrielle Union. Namun bergabung dengan tim besar justru membuka konflik baru: Jett diliputi kecemasan soal usia dan performa, sementara rekan setim lainnya sibuk dengan ego masing-masing.
Cerita Familiar dengan Nuansa Kekinian
Secara garis besar, GOAT mengingatkan pada film olahraga keluarga klasik seperti The Mighty Ducks atau Space Jam. Ada latihan keras, konflik internal, dan pelajaran tentang kerja sama tim. Bedanya, film ini menambahkan sentuhan modern lewat referensi budaya pop, media sosial, dan nuansa hip-hop yang terasa kuat dalam musik serta dialog.
Dari sisi naskah, beberapa konflik memang terasa klise dan mudah ditebak. Namun justru karena itu, ceritanya mudah diikuti oleh penonton lintas usia—sebuah nilai plus untuk tontonan keluarga.
Visual sebagai Kekuatan Utama
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Lulu
Komentar
Baca Juga
ULASAN Ready or Not 2: Here I Come: Sekuel Ambisius yang Kehilangan Ketegangan
Sinema 8 jam lalu
SINOPSIS Songko: Horor Legenda Minahasa yang Menggali Teror dan Ketakutan Sosial
Sinema 9 jam lalu
ULASAN Don’t Follow Me: Horor Media Sosial yang Menyentil Ambisi dan Realitas Digital
Sinema 10 jam lalu
ULASAN Turbulence: Thriller di Ketinggian dengan Ketegangan yang Belum Maksimal
Sinema 11 jam lalu
ULASAN Ayah, Ini Arahnya Ke Mana Ya?: Drama Keluarga yang Menyentuh Luka Tak Terucap
Sinema 12 jam lalu
Terkini
Honor 600 Series Siap Rilis Global: Kamera 200MP dan Baterai Besar Jadi Andalan
Tekno 4 jam lalu
Bocoran Vivo X Fold 6: Baterai 7.000mAh dan Kamera 200MP Siap Gebrak Pasar Foldable
Tekno 5 jam lalu
Vivo T5 Pro 5G Siap Meluncur: Baterai Jumbo 9.020mAh dan Layar 144Hz Jadi Andalan
Tekno 6 jam lalu
ULASAN Ready or Not 2: Here I Come: Sekuel Ambisius yang Kehilangan Ketegangan
Sinema 8 jam lalu
SINOPSIS Songko: Horor Legenda Minahasa yang Menggali Teror dan Ketakutan Sosial
Sinema 9 jam lalu
512 Pramuka Siaga Ikuti LKS 2026 Kwarran Mijen di SDN Karangmalang
Ilmu 9 jam lalu
Empat Kios di Kabupaten Semarang Terbakar, Diduga karena Lupa Matikan Kompor
Ragam Nusantara 10 jam lalu
ULASAN Don’t Follow Me: Horor Media Sosial yang Menyentil Ambisi dan Realitas Digital
Sinema 10 jam lalu
Antisipasi Situasi Kontijensi, Polres Semarang Gelar Simulasi
Ragam Nusantara 11 jam lalu
ULASAN Turbulence: Thriller di Ketinggian dengan Ketegangan yang Belum Maksimal
Sinema 11 jam lalu
Pra Desk Evaluasi ZI, Kemenkum Jateng Matangkan Kesiapan Menuju WBBM
Ragam Nusantara 12 jam lalu