Jujutsu Kaisen S3 Episode 4: Mahakarya Visual yang Lupa Membangun Hati

Jujutsu Kaisen S3 Episode 4: Mahakarya Visual yang Lupa Membangun Hati

Masalah Lama: Emosi yang Dipaksakan

Namun di balik semua kemegahan visual itu, ada perasaan tidak nyaman yang sulit diabaikan: apakah tontonan ini digunakan sebagai jalan pintas untuk emosi yang tidak dibangun dengan baik?

Maki memang selalu menjadi karakter yang simpatik—terpinggirkan, diremehkan, dan tertindas oleh sistem klan Zenin yang misoginis dan elitis. Tapi sepanjang serial, ia lebih sering didefinisikan melalui karakter lain seperti Yuta atau Toji, bukan sebagai sosok dengan perjalanan emosional yang berdiri sendiri.

Hubungan Maki dan Mai pun mengalami masalah serupa. Mereka memang memiliki beberapa momen penting di musim pertama, tetapi dinamika itu nyaris tidak pernah disentuh lagi. Akibatnya, pengorbanan Mai—yang seharusnya menjadi titik emosional terbesar episode ini—terasa lebih seperti mekanisme peningkatan kekuatan daripada tragedi yang benar-benar menghancurkan hati.

Secara konseptual, semuanya masuk akal. Secara emosional? Kurang menggigit.

Naoya: Simbol yang Terlalu Cepat Dihancurkan

Secara tematik, sangat tepat jika Maki menghabisi Naoya. Ia adalah personifikasi hidup dari sistem Zenin: nepotisme, seksisme, dan kekuasaan yang diwariskan tanpa empati. Masalahnya, kita baru saja melihat Naoya dipermalukan di episode sebelumnya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini