China dan Indonesia Bangun Jembatan Kemanusiaan Lewat Konektivitas Pendidikan

China dan Indonesia Bangun Jembatan Kemanusiaan Lewat Konektivitas Pendidikan

NYALANUSANTARA, JINAN- Di sebuah ruang kelas pintar untuk mata kuliah Bahasa Inggris Komprehensif di Universitas Normal Qilu, layar-layar cerdas memperbarui data secara waktu nyata, daftar tugas berkedip, dan suara siswa yang dalam berdiskusi kelompok memenuhi ruangan. Pemandangan tersebut disiarkan langsung hingga ribuan kilometer jauhnya ke Universitas Teuku Umar di Indonesia, menghadirkan pengalaman imersif pertama mengikuti perkuliahan di universitas China bagi lebih dari 70 dosen dan mahasiswa Indonesia.

   "Apakah ruang kelas Anda benar-benar seperti ini? Kami belum pernah melihat kelas pintar di mana interaksi terjadi secara waktu nyata, data memberikan umpan balik secara instan, dan tugas-tugas berjalan secara bersamaan!" tulis mahasiswa Indonesia, Sri Hartina, di kolom percakapan publik. Eksplorasi pendidikan pintar yang dilakukan bersama oleh generasi muda kedua negara ini kini menjadi penghubung baru dalam pertukaran budaya dan antarmasyarakat Tiongkok-Indonesia.

   Koneksi lintas negara tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Pada semester musim gugur 2025, mata kuliah Bahasa Inggris Komprehensif Universitas Normal Qilu terpilih sebagai bagian dari proyek "Kelas Campuran Global China-Indonesia". Diluncurkan dalam kerangka Global MOOC and Online Education Alliance, proyek ini bertujuan untuk mempererat kerja sama saling menguntungkan di bidang pendidikan tinggi antara kedua negara melalui model pendidikan berani, sekaligus mendukung inisiatif pendidikan Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI).

   "Bolehkan Anda menawarkan kelas lain yang secara khusus membahas praktik pendidikan cerdas Anda?" Pertanyaan dari pelajar Indonesia usai sesi pertama mendorong terselenggaranya "Belt and Road Smart Education Thematic Cloud Classroom" pada 20 November. Inti sesi ini bukan pengajaran satu arah, melainkan dialog jujur ​​antara generasi muda kedua negara mengenai model pendidikan.

   Dalam kelas keberanian berbasis cloud tersebut, siswa tingkat pertama bernama Li Zihan mengangkat sebagian tembikar hitam ke arah kamera. “Ini adalah tembikar hitam Zhangqiu. Tanah liat yang digunakan berasal dari lapisan aluvial Sungai Kuning,” jelasnya. Mahasiswa Indonesia menunjukkan minat besar, mengajukan pertanyaan tentang teknik pembuatan serta makna budayanya.

Para anggota tim THU Robotics dari Universitas Tsinghua melakukan persiapan untuk pertandingan sepak bola robot berbasis kecerdasan buatan (artificial Intelligence/AI) di Beijing, ibu kota China, pada 28 Juni 2025. (Xinhua/Zhang Chenlin)


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini