Wali Kota Semarang Lepas Rombongan Bhikkhu Thudong Menuju Candi Borobudur

Wali Kota Semarang Lepas Rombongan Bhikkhu Thudong Menuju Candi Borobudur

semarangkota.go.id

NYALANUSANTARA, Semarang – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang akrab disapa Mbak Ita, melepas rombongan bhikkhu thudong di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Bukit Kassapa, Pudakpayung, Banyumanik. 

Acara pelepasan ini menandai dimulainya perjalanan para bhikkhu menuju Candi Borobudur dalam rangka menyambut Tri Suci Waisak 2568 BE/2024 Masehi.

Dalam pelepasan tersebut, Mbak Ita mengungkapkan kebanggaannya bahwa Kota Semarang menjadi titik awal pelaksanaan ritual thudong tahun ini. 

"Kota Semarang menjadi jejak awal perjalanan spiritual ini, yang merupakan kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kita semua," ujarnya.

Ritual thudong kali ini diikuti oleh 43 bhikkhu dari empat negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Perjalanan mereka akan melewati Ambarawa dan Kabupaten Semarang, kemudian berlanjut ke Temanggung sebelum mencapai Candi Borobudur.

"Tahun lalu saya menerima rombongan di Vihara Adi Dharma, Semarang. Saat ini, saya menerima dan melepas mereka di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti," tambah Mbak Ita, menyoroti pentingnya acara ini bagi kota.

Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti memiliki nilai sejarah yang mendalam. Didirikan pada 1959, vihara ini merupakan tempat pertama di Indonesia yang berdiri Sima, sebuah tempat khusus untuk upasampada (pengukuhan) bhikkhu baru setelah rubuhnya Majapahit.

Mbak Ita juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh masyarakat Kota Semarang, TNI, Polri, umat lintas agama, dan sukarelawan yang telah menyambut para bhikkhu dengan baik. 

"Penyambutan yang luar biasa ini menunjukkan tingginya toleransi di Kota Semarang," katanya, merujuk pada laporan Yayasan Setara yang menempatkan Semarang di peringkat kelima sebagai kota paling toleran di Indonesia.

Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Kota Semarang berencana memperbaiki fasilitas keagamaan di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti untuk mendukung kegiatan ibadah dan menjadikannya destinasi wisata religi. 

Ketua Sangha Agung Indonesia, Bhikkhu Khemacaro Mahathera, menjelaskan bahwa ritual thudong adalah proses spiritual yang mengajak para bhikkhu menjalani hidup sederhana dan berjalan kaki. 

"Ritual ini mengirim pesan bahwa Indonesia adalah negara yang ramah dan penuh toleransi," ujarnya.

Rombongan bhikkhu thudong sebelumnya telah menginjakkan kaki di Vihara Buddha Dipa, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Semarang, setelah menempuh perjalanan malam hari menyusuri hutan dan menyeberangi Kaligarang sejauh satu kilometer. 

Acara ini tidak hanya mempererat hubungan lintas agama dan negara, tetapi juga menegaskan posisi Semarang sebagai kota dengan sejarah Buddhis yang kuat dan berpotensi menjadi destinasi wisata religi internasional.


Editor: Admin

Terkait

Komentar

Terkini