Semarang Writers Week IV, Soroti Pentingnya Budaya Literasi di Ibu Kota Jateng

Semarang Writers Week IV, Soroti Pentingnya Budaya Literasi di Ibu Kota Jateng

Meskipun, Isti mempertegas bahwa literasi yang diusung oleh Platform Bukit Buku biasanya spesifik pada wacana perubahan iklim. Akan tetapi, untuk SWW dikatakannya memiliki cakupan yang lebih umum atau luas.

"Berbicara perihal Bukit Buku, jelas lebih mengerucut pada isu atau wacana perubahan iklim. Namun untuk SWW, kami perluas cakupannya, terutama yang berhubungan dengan Kota Semarang," ungkap dia.

"Lebih spesifik, kami ingin mencoba membedah tentang benturan-benturan kompleksitas permasalahan kota terkait pembangunan hubungannya dengan literasi. Serta bagaimana sebuah kota dibangun tanpa adanya sumber literatur," sambung Isti.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Program SWW IV, Radit Bayu yang juga merupakan alumni peserta PekaKota Institute 2024. Perlu diketahui, agenda SWW juga masuk dalam salah satu titik prototip Program Purwarupa, di bawah naungan Platform PekaKota dari Kolektif Hysteria.

Menurut Radit Bayu, pembangunan sebuah kota yang ideal tidak hanya bertumpu pada infrastruktur bersifat fisik. Akan tetapi juga tumbuhnya literasi di dalam kehidupan warga kota.

"Sehingga, SDM kota bisa bertumbuh setidaknya sesuai dengan perkembangan infrasutruktur fisik sebuah kota," kata Radit Bayu alias Radit.

Mahasiswa Universitas PGRI Semarang tersebut menambahkan, jika identitas sebuah kota juga tergantung dengan tingkat literasi yang hidup dan dibangun oleh masyarakatnya. Sehingga memiliki karakter dan identitas.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini