Suami di Gresik Dijatuhi Hukuman 7 Tahun karena Jual Istri untuk Threesome di Mojokerto

Suami di Gresik Dijatuhi Hukuman 7 Tahun karena Jual Istri untuk Threesome di Mojokerto

NYALANUSANTARA, GRESIK- Di negeri yang penuh kata “maaf” tapi minim “malu”, kita kembali disuguhi cerita tragis dari sudut Gresik—tempat lahirnya Totok (35), seorang kuli bangunan yang entah sejak kapan berubah menjadi mucikari dalam rumah tangganya sendiri.

Ia bukan germo biasa. Ia adalah suami, sekaligus dalang utama dalam pentas kelam bernama "threesome demi bertahan hidup". Istrinya—yang dalam hukum dicintai dan dilindungi—malah dijadikan komoditas seksual. Sekali, dua kali, lalu lima kali. Total keuntungan? Rp 2.550.000. Kurang dari gaji minimum, cukup untuk menyambung napas sebulan, tapi mengorbankan marwah seumur hidup.

Dalam sidang yang digelar di ruang Cakra, PN Mojokerto, Rabu sore itu, hakim menjatuhkan vonis 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Pasal yang menjerat? UU TPPO. Ironisnya, bukan karena tertangkap dalam jaringan besar sindikat internasional, tapi karena menjadikan kasur hotel kelas menengah sebagai saksi bisu transaksi dosa.

Totok bukan penjahat yang lihai bersembunyi di balik dasi atau jabatan. Ia hanya pria sederhana dengan akun Facebook bernama Fatimah CRV, mengajak diskusi mesum di grup “Pasutri Surabaya”. Di sana, kata "keluarga sakinah" berubah jadi lelucon getir yang dimainkan lewat DM dan WhatsApp.

Katanya, ia terpaksa. Karena istrinya tak bisa bekerja berat. Karena anak harus makan. Karena hidup, katanya, terlalu mahal untuk dijalani dengan jujur. Tapi, mungkinkah keputusasaan jadi pembenaran untuk menjual tubuh pasangan yang seharusnya diselubungi cinta?

Ketika Milla di A Normal Woman masih sempat meracau dalam keindahan rumah borjuis, Totok hanya punya kamar nomor 515 di Hotel Lynn sebagai panggung pengakuannya. Bedanya, Milla halu karena tekanan sosial, sementara istri Totok terjebak karena tekanan ekonomi dan rayuan suami sendiri.

Cerita ini bukan tentang seks menyimpang. Ini tentang sistem yang memaksa orang miskin memilih dosa atau kelaparan. Ini tentang kepala keluarga yang lupa bahwa “kepala” bukan hanya soal posisi, tapi juga tentang akal sehat.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini