ULASAN SUPERMAN Yang Mengingatkan Pada Iron Man (2008)
"Superman" adalah film pertama untuk DC Studios, yang dipimpin oleh Peter Safran dan James Gunn. Sejarah terperinci tentang jalan yang rumit yang membawa kita ke sini tersedia untuk Anda, jika Anda tertarik, tetapi jika Anda hanya orang biasa seperti saya, hal terpenting yang harus diingat adalah ini: Gunn mungkin paling dikenal karena menyutradarai tiga film "Guardians of the Galaxy" untuk Marvel dan film DC tahun 2021 "The Suicide Squad" (jangan disamakan dengan film tahun 2016 "Suicide Squad" — Anda mengerti apa yang saya maksud dengan rumit).
James Gunn memiliki keahlian unik dalam mengolah kisah superhero—ia memadukan kejujuran emosional dengan sentuhan realitas dan rasa humor yang menyadari bahwa seluruh genre ini, bagaimanapun juga, memang agak konyol. Superhero dengan jubah, kekuatan ajaib, dan obsesi mengendalikan dunia bukanlah hal yang mudah diterima secara serius. Tapi Gunn tahu bagaimana membuatnya tetap terasa manusiawi.
Superman adalah contoh sempurna dari keseimbangan ini. Diciptakan oleh dua orang Yahudi, Jerry Siegel dan Joe Shuster, tokoh ini lahir dari masa ketika dunia dilanda depresi ekonomi dan fasisme meningkat. Superman dulu melawan politisi korup, pengusaha serakah, dan bahkan Hitler dalam kisah alternatif tahun 1940. Ia adalah simbol keadilan sosial, bukan sekadar pahlawan super. Untuk tetap setia pada karakter ini, Gunn tak hanya mempertahankan elemen klasik — seperti Kryptonite, Lois Lane, dan latar belakang Clark Kent — tetapi juga menyentuh akar ideologisnya: perjuangan untuk kebenaran dan keadilan.
Film "Superman" versi Gunn berhasil menyampaikan semua itu. Ini adalah film yang tulus tapi juga jenaka, yang menyegarkan mitos Superman dengan pendekatan modern. David Corenswet tampil sebagai Superman yang idealis dan tulus, mirip karakter yang diperankan Jimmy Stewart dalam Mr. Smith Goes to Washington. Ia percaya pada orang-orang, dan kita pun percaya pada keyakinannya.
Tapi di era modern, keyakinan Superman itu menjadi tantangan tersendiri. Dalam film ini, ia dikritik karena terlalu banyak ikut campur. Ia dituduh semena-mena dalam urusan global, bahkan ketika ia hanya mencoba menyelamatkan orang-orang tak bersalah. Lex Luthor — diperankan dengan pas oleh Nicholas Hoult — menyebarkan informasi palsu lewat media, dan orang-orang menelannya mentah-mentah.
Walau tidak secara eksplisit menyindir dunia nyata, film ini jelas menyelipkan paralel: ada diktator dengan gaya propaganda mirip rezim otoriter, ada tahanan yang disekap secara semena-mena, ada pemimpin manipulatif yang penuh kecemburuan, dan sistem informasi yang membingungkan publik.
Gunn menyajikan semuanya dengan keseimbangan antara fiksi dan kritik sosial, membangun film yang menghibur sekaligus menggugah pemikiran.
Film "Superman" terbaru mengingatkan kita pada Iron Man (2008), film yang membuka jalan bagi Marvel Cinematic Universe. Meski MCU kini cenderung aman dalam menyampaikan pesan politik, Iron Man dulu berani menyoroti konflik di Afghanistan dan mempertanyakan tanggung jawab moral orang kaya dan berkuasa terhadap dunia. Ia juga membahas perbedaan antara kekuasaan dan pelayanan, serta makna kebebasan dan kepahlawanan sejati.
"Superman" menempuh jalur serupa. Sebagai awal dari semesta film yang lebih luas, film ini memikul tugas berat: memperkenalkan berbagai karakter tanpa terjebak pada eksposisi berlebihan atau sekadar menjadi “fan service”. Hasilnya, film ini tetap terasa utuh sebagai kisah berdiri sendiri, sambil menyisipkan kritik sosial yang cerdas dan relevan.
Beberapa tokoh penting diperkenalkan, termasuk "Justice Gang"—kelompok metahuman unik yang dipimpin oleh seorang miliarder. Di dalamnya ada:
Editor: Lulu
Terkait
Disutradarai oleh Sejal Shah dan dibintangi Nawazuddin Siddiqui,…
Penipu keuangan Dai Yichen (Tony Leung Chiu Wai)…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng hingga saat ini…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menjamin keamanan keluarga…
NYALANUSANTARA, Banyumas – Kebakaran rumput alang alang terjadi…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng menggelar rangkaian…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film “Ohh My Dog” menghadirkan dua cerita…
NYALANUSANTARA, MOROWALI- Tiga program tanggung jawab sosial perusahaan atau…
NYALANUSANTARA, Semarang – Peredaran rokok elektronik (vape) yang…
NYALANUSANTARA, Semarang - Untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan…
NYALANUSANTARA, Semarang – Universitas Wahid Hasyim atau Unwahas…
NYALANUSANTARA, Semarang – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan…

Komentar