A Normal Woman: Wajah Cantik dari Kebohongan yang Penuh Luka

A Normal Woman: Wajah Cantik dari Kebohongan yang Penuh Luka

Dari luar, semua tampak perfect. Rumah megah. Suami kaya. Putri cantik. Mertua bergengsi. Tapi dari dalam, A Normal Woman adalah gambaran paling telanjang dari luka-luka sosial yang dikemas dalam kesempurnaan borjuis. Film terbaru Lucky Kuswandi ini menyuguhkan ilusi kemewahan dengan kemasan visual yang memesona, namun menyimpan cacat struktur narasi yang sulit ditambal.

Dan seperti Milla yang terus tersenyum di balik pernikahan palsunya, film ini juga tampak bahagia di permukaan, namun hampa di dalam.
Marissa Anita sebagai Milla adalah pusat dari drama eksistensial ini. Dihadirkan sebagai trofi indah dalam keluarga terpandang, ia adalah "istri" yang disebutkan sesudah "keluarga" dalam kalimat pujian seorang jurnalis: "You have the most beautiful family... and wife." Kalimat itulah yang membedakan status — antara dimiliki dan termasuk. Ia bukan bagian. Ia penghias.
Di rumah megah milik sang suami Jonathan (Dion Wiyoko), Milla berjalan seolah di atas panggung teater, di mana mertuanya Liliana (Widyawati) adalah sutradara. Ia menjalani peran istri, menantu, dan ibu tanpa naskah pasti. Semua serba ambigu. Semua serba salah.
Tata visual film ini nyaris tak bercela. Desain produksi Teddy Setiawan dan sinematografi Batara Goempar menciptakan dunia elite yang menggoda mata, lengkap dengan ornamen religius dan estetika seperti dari katalog furnitur Italia. Tapi itu semua hanya topeng. Di balik chandelier dan jubah liturgi, semua penghuni rumah itu berdoa sambil memupuk kepalsuan.

Dan di tengah semua kepura-puraan itu, Milla mulai "sakit". Bukan batuk, bukan demam. Tapi gatal. Parah. Simbolik. Ia mulai melihat gadis kecil bernama Grace yang hadir sebagai semacam trauma, semacam alarm moral — bahwa kebohongan sedang menggerogoti dirinya.

Naskah Berpotensi, Tapi Terlalu Banyak yang Ingin Dikatakan
Naskah dari Lucky Kuswandi dan Andri Cung bermaksud menjadi sindiran tajam terhadap dunia sosialita dan peran gender yang penuh sandiwara. Namun setelah menabur begitu banyak simbol dan metafora, naskahnya kelelahan sendiri. Alur yang seharusnya mendorong penceritaan jadi terjebak dalam repetisi halusinasi, membebani durasi 110 menit yang terasa seperti selamanya.

Alih-alih membongkar kepalsuan dengan lapisan demi lapisan seperti dalam Parasite atau The Stepford Wives, film ini justru tersesat di lorong-lorong absurditas yang tidak selalu bermakna.

Jangkar Emosional Bernama Marissa Anita
Namun di antara segala kekacauan itu, Marissa Anita bersinar. Ia menyampaikan kegelisahan, ketakutan, dan frustrasi Milla dengan sangat otentik. Transisinya dari accented English ke logat Surabaya bukan gimmick, tapi justru jadi pernyataan identitas — bahwa ia tahu dari mana ia berasal, meski dunia terus mencoba memutihkan suaranya.
Marissa adalah jangkar yang menjaga film ini tetap mengambang di tengah badai absurditas naratif.
Ketika Erika Masuk dan Semua Makin Kabur
Kemunculan Erika (Gisella Anastasia) sebagai tukang rias adalah titik di mana film ini goyah sepenuhnya. Ia datang membawa twist, membawa ketegangan baru — tapi bukan kejelasan. Motif Liliana yang ingin menyingkirkan Milla dan menjadikan Erika sebagai menantu pengganti justru membuka lebih banyak pertanyaan tak terjawab.

Bukankah borjuis selalu ingin menantu dari kasta yang setara? Lalu kenapa ART di rumah sebesar itu berpakaian lusuh? Kenapa banyak keputusan di film ini terasa asal dan tidak sesuai dengan logika dunia yang ia bangun sendiri? Di sinilah letak ironi A Normal Woman: ingin menggugat norma, tapi ikut terjebak dalam logika yang tidak konsisten.

Kesimpulan: Wajah yang Cantik Tak Selalu Punya Isi
A Normal Woman adalah refleksi keindahan palsu yang dibayar mahal oleh kejujuran yang dikorbankan. Film ini punya niat besar, punya alat peraga yang cantik, dan punya aktor utama yang luar biasa — tapi ia kehilangan arah. Ketika ide besar tidak dikelola dengan ketelitian, hasilnya adalah pertunjukan yang tampak anggun namun membingungkan.

Seperti rumah-rumah elit di kompleks mewah, yang indah dilihat dari luar tapi sunyi dan penuh ketakutan di dalam.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini