RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

ulasan Love Through a Prism: Romansa Seni yang Indah, Rapuh, dan Tetap Menghibur

Kit dan Relasi yang Terlalu Aman

Tak lama setelah tiba di London, Lili bertemu Kit, pemuda pirang berpakaian lusuh yang menggambar burung camar di tepi Sungai Thames. Ia jelas berbakat, namun menjengkelkan—bahkan sempat membuat Lili kesal dengan menawarkan roti kotor arang. Tentu saja, Kit adalah siswa di Akademi Seni St. Thomas dan menjadi rival utama Lili.

Sayangnya, Kit tidak pernah benar-benar menjadi tandingan seimbang bagi Lili. Ia lebih sering tampil sebagai karakter reaktif, pendiam, dan penurut, meski sesekali diberi kedalaman melalui konflik keluarga. Ada momen lucu yang kemungkinan akan disukai penonton Inggris, ketika ia sengaja mengacak rambut pirangnya untuk menegaskan identitasnya—sebuah sindiran halus pada tokoh politik masa lalu. Namun secara keseluruhan, Kit lebih berfungsi sebagai pemicu perkembangan Lili ketimbang karakter yang berdiri kuat sendiri.

Cerita Klise yang Sesekali Brilian

Secara naratif, Love Through a Prism bermain di wilayah yang sangat familiar. Banyak bagian cerita mudah ditebak, termasuk konflik cinta segitiga yang menarik namun diselesaikan terlalu cepat. Beberapa elemen terasa ganjil—termasuk subplot absurd tentang pembantu yang kerasukan setan—yang sempat menjadi titik terendah serial ini. Namun menariknya, kekonyolan tersebut kemudian “dibingkai ulang” dengan cerdas hingga terasa dapat diterima.

Anime ini juga menggunakan seni animasi sebagai solusi naratif, menyelesaikan krisis cerita melalui visual alih-alih dialog. Bahkan sejarah nyata dimanfaatkan untuk menciptakan konflik tambahan. Di sinilah serial ini menunjukkan kecerdikan yang sesekali muncul di tengah struktur cerita yang rapuh.

Karakter Pendukung yang Bersinar


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini