ulasan Love Through a Prism: Romansa Seni yang Indah, Rapuh, dan Tetap Menghibur
PANJI PRATAMA PUTRA - 25 Januari 2026 - LifestyleDi awal abad ke-20, seorang gadis Jepang penuh semangat bernama Lili tiba di London. Ia adalah seniman muda yang bertekad menaklukkan Akademi Seni Saint Thomas, institusi bergengsi yang menjadi impiannya. Namun, ambisinya segera menemui rintangan besar: seorang siswa laki-laki jenius seni yang berantakan, menyebalkan, dan tak terduga bernama Kit, yang menjadi pesaing utamanya untuk posisi mahasiswa terbaik.
Romansa Periode dengan Produksi Mewah
Love Through a Prism adalah anime romantis periode yang tampil mewah dan ambisius. Berlatar Inggris era 1910-an, serial ini digarap oleh Wit Studio bersama sejumlah studio kolaborator, dengan naskah yang turut ditulis oleh Yōko Kamio, kreator Boys Over Flowers. Meski melibatkan nama besar, kisah ini merupakan cerita orisinal, bukan adaptasi langsung, dan ceritanya tertutup rapat—membuat kemungkinan sekuel nyaris mustahil.
Terlepas dari berbagai kritik, anime ini sangat menghibur. Ia bisa dinikmati sebagai tontonan yang menenangkan, namun di banyak momen justru melampaui ekspektasi dan pantas disebut sebagai karya seni—sebuah kualitas yang terasa pas untuk cerita tentang para seniman. Visualnya memukau: dari arsitektur batu megah London, pedesaan hijau yang damai, taman-taman terawat, hingga pasir di bawah tebing Dover. Bahkan adegan sederhana, seperti Lili berlari panik di jalanan London sambil memuji keindahan gedung pemerintahan, terasa hidup dan penuh pesona. Menontonnya saja sudah menjadi kenikmatan tersendiri.
Lili, Tokoh Utama yang Penuh Energi
Kekuatan utama anime ini terletak pada Lili. Ia meninggalkan Yokohama dan toko kimono milik orang tuanya demi belajar seni di London, dengan syarat keras dari sang ibu: ia harus menjadi mahasiswa nomor satu dalam enam bulan atau pulang ke Jepang. Meski demikian, Lili bukanlah karakter kaku. Kita pertama kali melihatnya di kapal menuju Inggris—berlari, menabrak dinding, berteriak, lalu kembali menutup pintu kabin dengan kikuk. Ia bisa anggun dan bermartabat, namun juga ceroboh dan penuh energi muda. Dalam satu momen indah, ia keluar dari ruang belajar sebagai mahasiswi teladan… lalu menguap lebar tanpa peduli citra.
Desain karakter Lili mengingatkan pada bintang film Hollywood klasik, dengan hidung runcing seperti boneka yang membangkitkan nostalgia pada karya Nobuteru Yuki. Ekspresinya sangat hidup, sering kali lucu bahkan di luar adegan super-deformed. Karakter ini semakin kuat berkat pengisi suaranya, Atsumi Tanezaki, yang memberikan rentang emosi luas—dari keceriaan hingga intensitas luar biasa, terutama dalam adegan konfrontasi di sebuah gereja London. Meski dikenal lewat peran Frieren, Anya (SPY x FAMILY), dan Chise (The Ancient Magus’ Bride), versi Lili ini terasa sangat istimewa.
Kit dan Relasi yang Terlalu Aman
Tak lama setelah tiba di London, Lili bertemu Kit, pemuda pirang berpakaian lusuh yang menggambar burung camar di tepi Sungai Thames. Ia jelas berbakat, namun menjengkelkan—bahkan sempat membuat Lili kesal dengan menawarkan roti kotor arang. Tentu saja, Kit adalah siswa di Akademi Seni St. Thomas dan menjadi rival utama Lili.
Sayangnya, Kit tidak pernah benar-benar menjadi tandingan seimbang bagi Lili. Ia lebih sering tampil sebagai karakter reaktif, pendiam, dan penurut, meski sesekali diberi kedalaman melalui konflik keluarga. Ada momen lucu yang kemungkinan akan disukai penonton Inggris, ketika ia sengaja mengacak rambut pirangnya untuk menegaskan identitasnya—sebuah sindiran halus pada tokoh politik masa lalu. Namun secara keseluruhan, Kit lebih berfungsi sebagai pemicu perkembangan Lili ketimbang karakter yang berdiri kuat sendiri.
Cerita Klise yang Sesekali Brilian
Secara naratif, Love Through a Prism bermain di wilayah yang sangat familiar. Banyak bagian cerita mudah ditebak, termasuk konflik cinta segitiga yang menarik namun diselesaikan terlalu cepat. Beberapa elemen terasa ganjil—termasuk subplot absurd tentang pembantu yang kerasukan setan—yang sempat menjadi titik terendah serial ini. Namun menariknya, kekonyolan tersebut kemudian “dibingkai ulang” dengan cerdas hingga terasa dapat diterima.
Anime ini juga menggunakan seni animasi sebagai solusi naratif, menyelesaikan krisis cerita melalui visual alih-alih dialog. Bahkan sejarah nyata dimanfaatkan untuk menciptakan konflik tambahan. Di sinilah serial ini menunjukkan kecerdikan yang sesekali muncul di tengah struktur cerita yang rapuh.
Karakter Pendukung yang Bersinar
Ironisnya, karakter pendukung justru terasa lebih hidup dibanding pemeran pria utama. Dorothy, sahabat Lili yang antusias dan terobsesi samurai serta ninja, tampil menggemaskan sekaligus bijak dalam memandang cinta. Seorang gadis kaya yang malang membawa nuansa komedi ala Glinda dari Wicked. Bahkan guru seni yang awalnya tampak seperti karikatur pedagogis akhirnya mendapat beberapa adegan paling menyentuh di serial ini.
Visual Monokrom dan Akhir yang Biasa Saja
Episode-episode terakhir menonjol lewat penggunaan visual monokrom artistik, diselingi kilasan warna. Teknik ini awalnya memiliki alasan naratif yang jelas, meski lama-kelamaan terasa kurang meyakinkan. Namun kualitas visualnya begitu kuat hingga sulit untuk benar-benar mempermasalahkannya. Bahkan, Love Through a Prism mungkin membantu memulihkan citra anime hitam-putih setelah kekecewaan Uzumaki.
Jika menilai sebuah serial dari penutupnya saja, maka anime ini mungkin terasa mengecewakan. Akhir ceritanya tidak spektakuler, namun juga tidak menjadi bencana. Ada banyak anime romantis yang lebih kuat—termasuk Emma: A Victorian Romance yang rilis dua dekade lalu. Love Through a Prism jelas tidak akan memiliki daya tahan budaya seperti Boys Over Flowers. Namun, sebagai karya yang dibuat dengan penuh perhatian dan keindahan visual, serial ini tetap sangat menghibur.
Penutup
Dengan total 20 episode—beberapa berdurasi panjang seperti Episode 6 yang mencapai 40 menit—serial ini nyaris setara dengan dua musim penuh. Episode terakhir bahkan ditutup dengan epilog pascakredit yang cukup panjang.
Love Through a Prism mungkin rapuh secara struktur, namun kuat dalam momen. Ia adalah anime yang lebih layak dinikmati perlahan, dirasakan lewat emosi dan visualnya, bukan dinilai semata dari logika cerita. Sebuah romansa seni yang indah, meski tak sempurna.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Lulu
Komentar
Baca Juga
Jujutsu Kaisen S3 Episode 4: Mahakarya Visual yang Lupa Membangun Hati
Lifestyle 3 jam lalu
ulasan Love Through a Prism: Romansa Seni yang Indah, Rapuh, dan Tetap Menghibur
Lifestyle 5 jam lalu
Kawasaki Luncurkan W175 ABS dan W175 Street, Motor Retro Klasik Berbalut Teknologi Modern
Lifestyle 8 jam lalu
Dhanush Umumkan Proyek Film Baru D55, Kolaborasi Perdana dengan Rajkumar Periasamy
Lifestyle 18 jam lalu
Yamaha Grand Filano dan Fazzio Hybrid Hadirkan Warna Baru untuk Mobilitas Harian
Lifestyle 20 jam lalu
Terkini
540 Mahasiswa UNNES Terima Beasiswa Rumah Amal
Ilmu 24 menit lalu
Pemkot Semarang Dukung Penguatan Peran NU Lewat Peresmian Gedung PCNU
Ragam Nusantara 1 jam lalu
Lapas Semarang Pamerkan Produk Napi di Kota Lama
Ragam Nusantara 2 jam lalu
Kali Pertama, Alpukat Segar dari Menglian di China Diekspor ke Pasar ASEAN
Ragam Nusantara 2 jam lalu
Jujutsu Kaisen S3 Episode 4: Mahakarya Visual yang Lupa Membangun Hati
Lifestyle 3 jam lalu
ulasan Love Through a Prism: Romansa Seni yang Indah, Rapuh, dan Tetap Menghibur
Lifestyle 5 jam lalu
ULASAN Border 2: Sekuel Sarat Nostalgia tentang Keberanian, Persaudaraan, dan Pengorbanan
Sinema 6 jam lalu
ULASAN Sengkolo: Petaka Satu Suro – Horor Jawa yang Lebih Gelap, Emosional, dan Brutal
Sinema 7 jam lalu
ULASAN Primate: Horor Ringkas dengan Teror Sederhana yang Efektif
Sinema 7 jam lalu
Kawasaki Luncurkan W175 ABS dan W175 Street, Motor Retro Klasik Berbalut Teknologi Modern
Lifestyle 8 jam lalu
SIG Pasok 115 Ribu Ton Semen untuk RDMP Balikpapan, Dukung Kemandirian Energi Nasional
Ekbis 9 jam lalu