REVIEW YOUNG MOTHERS, Kelembutan sebagai Perlawanan: Kembalinya Dardenne Bersaudara ke Puncak Realisme Sosial
Karso Aji - 27 Januari 2026 - SinemaFilm terbaru karya Jean-Pierre dan Luc Dardenne menghadirkan kelembutan, kasih sayang, dan cinta sebagai inti narasinya. Karya ini terasa sebagai kembalinya Dardenne bersaudara ke performa terbaik mereka, setelah beberapa film sebelumnya dinilai terlalu melodramatis. Di sini, mereka memilih kesederhanaan dan kejernihan: setiap adegan disajikan tanpa paksaan, setiap karakter diperlakukan dengan martabat dan kecerdasan yang jujur. Harapan tidak disuarakan secara retoris, melainkan melalui tindakan sederhana—memberi dan meminta bantuan—yang justru terasa sangat kuat.
Sekali lagi, Dardenne menetapkan standar emas sinema realisme sosial di Cannes. Bagi penonton setia, film ini juga memunculkan resonansi emosional yang mendalam dengan Rosetta, film peraih Palme d’Or seperempat abad lalu. Kenangan itu terasa semakin pilu mengingat pemeran utamanya, Émilie Dequenne, telah wafat baru-baru ini akibat kanker.
Berlatar di Liège, Belgia, film ini mengambil lokasi di sebuah rumah penampungan negara bagi ibu-ibu remaja dan calon ibu. Tempat ini bukan hanya ruang tinggal, tetapi juga ruang belajar: para penghuni dibimbing menghadapi persalinan, merawat bayi, mengatasi kecanduan dan depresi, hingga mempertimbangkan adopsi. Mereka hidup sebagai komunitas, berbagi tanggung jawab sehari-hari, termasuk memasak secara bergiliran.
Beberapa tokoh utama membentuk mosaik pengalaman yang kompleks. Perla, ibu muda yang telah melahirkan bayi bernama Noé, harus menghadapi sikap dingin dan kasar ayah anaknya. Jessica, yang sedang hamil, berusaha menemukan ketenangan batin dengan menghubungi ibu kandungnya yang dulu menyerahkannya untuk diadopsi. Julia, mantan pecandu narkoba tunawisma, mencoba membangun hidup baru bersama bayinya, Mia, dengan bekerja dan menjalin hubungan yang penuh perhatian—digambarkan lewat adegan ikonik Dardenne di atas skuter motor, simbol kebebasan sekaligus kerentanan kaum muda.
Tokoh paling kompleks adalah Ariane, gadis 15 tahun yang ingin menyerahkan bayinya, Lili, untuk diadopsi. Keputusan ini memicu konflik dengan ibunya, Nathalie, yang ingin menjadi nenek atau bahkan ibu pengganti. Nathalie, dibebani rasa bersalah dan masa lalu yang penuh luka, bertekad memperbaiki hidupnya, sementara Ariane justru ingin memutus lingkaran kekerasan dan penderitaan yang pernah ia alami.
Gambaran “bayi yang melahirkan bayi” menjadi sumber kekuatan emosional utama film ini. Ia memperlihatkan bagaimana generasi yang lebih tua, dengan segala kelelahan dan penyesalannya, pernah berada di posisi yang sama dengan anak-anak mereka. Kelembutan bayi-bayi—seperti senyum lirih Lili kepada Ariane—menghadirkan ironi yang menyayat: masa depan seperti apa yang menanti mereka?
Pada akhirnya, film ini mengajukan pertanyaan moral yang mendalam: setelah memilih untuk tidak melakukan aborsi, apakah menyerahkan anak untuk diadopsi merupakan bentuk tanggung jawab dan pengorbanan tertinggi? Ataukah justru kegagalan keberanian yang melanggengkan sistem adopsi berbasis kelas? Dardenne tidak menawarkan jawaban pasti. Namun, mereka menutup film dengan keyakinan sunyi akan kemungkinan masa depan yang lebih baik—terutama lewat adegan penutup yang mengutip puisi The Farewell karya Apollinaire, yang terasa sangat mengharukan.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Lulu
Komentar
Baca Juga
REVIEW YOUNG MOTHERS, Kelembutan sebagai Perlawanan: Kembalinya Dardenne Bersaudara ke Puncak Realisme Sosial
Sinema 1 jam lalu
ULASAN Sebelum Dijemput Nenek, Ketika Hantu Tak Lagi Menakutkan: Komedi Absurd di Balik
Sinema 1 hari lalu
SINOPSIS Return to Silent Hill Siap Menghantui Bioskop Indonesia Mulai 28 Januari 2026
Sinema 1 hari lalu
ULASAN Border 2: Sekuel Sarat Nostalgia tentang Keberanian, Persaudaraan, dan Pengorbanan
Sinema 2 hari lalu
ULASAN Sengkolo: Petaka Satu Suro – Horor Jawa yang Lebih Gelap, Emosional, dan Brutal
Sinema 2 hari lalu
Terkini
Kunjungi Pusat UMKM Dukungwaringin, Nawal Yasin Borong Kopi Khas Muria Kudus
Ragam Nusantara 1 jam lalu
Fantagio Buka Suara soal Dugaan Penggelapan Pajak Cha Eun Woo, Minta Publik Hentikan Spekulasi
Lifestyle 1 jam lalu
REVIEW YOUNG MOTHERS, Kelembutan sebagai Perlawanan: Kembalinya Dardenne Bersaudara ke Puncak Realisme Sosial
Sinema 1 jam lalu
Xiaomi Luncurkan Tiga Produk AIoT Terbaru untuk Dukung Rumah Pintar Modern
Lifestyle 2 jam lalu
Tinjau Peternakan Ayam di Kudus, Nawal Yasin Dukung Program Penguatan Ketahanan Pangan
Ragam Nusantara 2 jam lalu
Satu Ton NaCl Disemai di Perairan Utara Jateng
Ragam Nusantara 3 jam lalu
Volkswagen ID.4 2027 Akan Berganti Nama Jadi ID. Tiguan, Meluncur Akhir Tahun Ini
Lifestyle 3 jam lalu
Sekda Jateng Cek Upaya Pencarian Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang yang Belum Ditemukan
Ragam Nusantara 4 jam lalu
Thomas Djiwandono Tegaskan Komitmen Jaga Independensi Bank Indonesia
Ekbis 4 jam lalu
Kabur ke Tulungagung, Menantu Perempuan Terduga Pembunuh Lansia di Blitar Ditangkap Polisi
Ragam Nusantara 4 jam lalu
Kepesertaan JKN 85 Persen, Kota Semarang Raih Penghargaan UHC Award
Ragam Nusantara 5 jam lalu