Review Iron Lung: Ambisi Besar Markiplier yang Terjebak di Ruang Sempit
PANJI PRATAMA PUTRA - 26 Februari 2026 - SinemaMarkiplier akhirnya membuktikan bahwa kreator YouTube bisa melangkah ke layar lebar dengan serius. Lewat Iron Lung, ia bukan hanya menjadi pemeran utama, tetapi juga penulis, sutradara, editor, sekaligus produser yang membiayai film ini secara mandiri.
Film ini merupakan adaptasi dari gim horor karya David Szymanski dan dirilis luas di bioskop, bukan sekadar tayang digital. Dari sisi pencapaian industri, langkah ini sudah tergolong berani dan patut diapresiasi. Namun bagaimana kualitasnya sebagai film?
Premis Simpel, Atmosfer Mencekam
Kisahnya berlatar dunia pasca peristiwa misterius bernama Quiet Rapture, ketika seluruh bintang dan planet mendadak lenyap. Umat manusia yang tersisa bertahan hidup di stasiun luar angkasa dengan sumber daya terbatas.
Tokoh utama, Simon, adalah seorang narapidana yang ditawari kebebasan dengan satu syarat: menyelam ke sebuah bulan asing yang seluruh permukaannya berupa lautan darah. Ia harus mengendalikan kapal selam tua bernama Iron Lung untuk mencari sumber daya demi kelangsungan hidup manusia.
Masalahnya, kapal itu sangat sempit, sistemnya usang, dan ada sesuatu di kedalaman yang jelas bukan manusia.
Konsepnya kuat. Rasa terisolasi, sesak, dan ketidaktahuan tentang ancaman di luar kapal menjadi fondasi horor yang efektif. Film ini berusaha membuat penonton merasa kecil di tengah misteri kosmik yang mengerikan.
Ritme yang Terlalu Lambat
Sayangnya, ide yang menjanjikan ini terasa dipanjangkan berlebihan.
Dengan durasi lebih dari dua jam dan hampir seluruh adegan berlangsung di satu lokasi dengan satu karakter, tantangan ritme menjadi sangat terasa. Penonton berulang kali melihat Simon memutar tuas, membaca koordinat, memantau layar, atau berdialog lewat radio.
Di awal, atmosfer tegangnya masih bekerja. Namun semakin lama, ketegangan berubah menjadi repetisi. Alih-alih menambah rasa takut, film justru terasa melelahkan.
Sebagai adaptasi gim, Iron Lung memang setia pada konsep aslinya. Tetapi mekanisme permainan yang efektif dalam medium interaktif tidak selalu berhasil ketika diterjemahkan ke format film panjang. Banyak momen terasa seperti level gim yang diulang tanpa perkembangan dramatis yang cukup signifikan.
Kualitas Teknis yang Layak Diapresiasi
Dari sisi produksi, film ini menunjukkan keseriusan. Set kapal selam dibangun secara fisik dan mampu berguncang nyata saat adegan kacau, memberikan sensasi imersif yang kuat. Efek darahnya pun total, bahkan disebut memecahkan rekor penggunaan darah palsu terbanyak di lokasi syuting.
Musik garapan Andrew Hulshult—yang dikenal lewat Doom Eternal—berhasil memperkuat suasana, terutama saat kamera sinar X menampilkan kilasan mengerikan dari luar kapal.
Tiga puluh menit terakhir akhirnya menghadirkan intensitas yang dinanti. Ada momen gore, konflik yang lebih bergerak, dan ketegangan yang terasa nyata. Namun, klimaks yang kuat itu datang agak terlambat sehingga tidak sepenuhnya menebus ritme lambat di dua jam sebelumnya.
Horor tentang Harapan
Di balik nuansa kosmik dan darah yang melimpah, film ini sebenarnya berbicara tentang harapan. Organisasi yang mengirim Simon terus menjanjikan kebebasan jika ia bersedia menyelam lebih dalam. Harapan itu menjadi alat pendorong sekaligus jebakan.
Makhluk di dasar lautan darah digambarkan seperti predator yang memancing mangsanya dengan cahaya. Simbolismenya cukup jelas: manusia sering digerakkan oleh harapan, bahkan ketika harapan itu berpotensi menghancurkan mereka.
Kesimpulan
Iron Lung adalah proyek ambisius yang menunjukkan dedikasi luar biasa dari Markiplier. Secara teknis dan konsep, film ini menarik dan memiliki beberapa momen yang benar-benar kuat.
Namun sebagai pengalaman sinematik utuh, ritme yang terlalu lambat dan repetitif membuatnya terasa kurang efektif.
Ini adalah langkah besar bagi seorang kreator digital menuju dunia film. Sebuah pencapaian yang patut dihormati—meski hasil akhirnya belum sepenuhnya matang.
IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS
Editor: Lulu
Komentar
Baca Juga
Review Panda Plan: The Magical Tribe: Petualangan Hangat Penuh Warna dari Jackie Chan
Sinema 12 jam lalu
Review Iron Lung: Ambisi Besar Markiplier yang Terjebak di Ruang Sempit
Sinema 13 jam lalu
REVIEW Rumble: Animasi Penuh Hati tentang Keberanian dan Menerima Diri Sendiri
Sinema 1 hari lalu
ULASAN Prometheus: Ambisi Besar, Ekspektasi Tinggi, dan Reputasi yang Terbelah
Sinema 1 hari lalu
ULASAN Marty Supreme: Dekonstruksi Mitos “From Zero to Hero” dalam Arena Pingpong Takdir
Sinema 2 hari lalu
Terkini
Kemenkum Jateng Jajaki Kerja Sama dengan 3 Perguruan Tinggi
Ragam Nusantara 19 menit lalu
Serdik Sespimmen Polri Angkatan 66 Laksanakan FGD dan Studi Lingkungan di Polres Semarang
Ragam Nusantara 1 jam lalu
Seorang Anak di Getasan Semarang Meninggal usai Kendarai Motor Tanpa Lampu hingga Tabrak Pohon
Ragam Nusantara 2 jam lalu
Polrestabes Semarang Bagikan Takjil Buka Puasa kepada Para Demonstran di Polda Jateng
Ragam Nusantara 3 jam lalu
Review Panda Plan: The Magical Tribe: Petualangan Hangat Penuh Warna dari Jackie Chan
Sinema 12 jam lalu
Review Iron Lung: Ambisi Besar Markiplier yang Terjebak di Ruang Sempit
Sinema 13 jam lalu
Sidang Dugaan Suap Rp 300 Juta di Kasus Narkoba Ammar Zoni Kembali Disorot
Lifestyle 13 jam lalu
Bhooth Bangla Tandai Reuni Akshay Kumar dan Priyadarshan Setelah 16 Tahun
Lifestyle 14 jam lalu
Arijit Singh Jelaskan Alasan Lagu Baru Tetap Dirilis Meski Umumkan Pensiun
Lifestyle 15 jam lalu
Kemenkum Jateng Gelar Bakti Sosial Ramadhan di Panti Asuhan Salsabil
Ragam Nusantara 15 jam lalu
Samsung Galaxy S26 Ultra vs iPhone 17 Pro Max: Duel Flagship Premium
Tekno 16 jam lalu