Utang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Jadi Sorotan, KAI Usulkan Restrukturisasi
NYALANUSANTARA, SURAKARTA- Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menjadi perhatian publik setelah wacana restrukturisasi mencuat. Pasalnya, beban utang proyek strategis nasional (PSN) ini disebut semakin menekan keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, bahkan mengibaratkan utang operator Whoosh, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sebagai “bom waktu” bagi keuangan perseroan.
“Kami yakin dalam satu minggu ke depan bisa memahami semua kendala yang ada di dalam KAI ini. Karena itu, kami mengusulkan restrukturisasi utang Whoosh,” kata Bobby saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (20/8).
Beban Utang Menggunung
Anggota Komisi VI Fraksi PDI Perjuangan, Darmadi Durianto, menilai KAI menanggung utang besar akibat proyek KCIC.
“Saya melihat ada utang yang begitu besar dalam proyek KCIC. Kalau dihitung, 2025 beban keuangan dan kerugian KCIC bisa mencapai Rp4 triliun lebih,” ujarnya.
Sebagai informasi, mayoritas saham KCIC dikuasai oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60 persen. PSBI sendiri merupakan konsorsium yang terdiri dari KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Jasa Marga (Persero) Tbk., dan PT Perkebunan Nusantara I (Persero). Sementara 40 persen saham KCIC dimiliki mitra dari Tiongkok.
Danantara Turun Tangan
Isu restrukturisasi utang Whoosh juga ditanggapi Danantara Indonesia. CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi menyeluruh skema penyelesaian utang.
“Kami ingin memastikan setiap aksi korporasi bisa menyelesaikan masalah secara permanen, bukan sekadar menundanya,” tegas Rosan di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (5/8).
COO Danantara, Dony Oskaria, menambahkan bahwa penyelesaian proyek Whoosh akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Danantara tahun ini.
“Nanti akan kami selesaikan segera, dan masuk dalam RKAP kami tahun ini,” ujarnya, Jumat (22/8).
Nilai Proyek Fantastis
KCJB tercatat menelan biaya USD 7,27 miliar atau sekitar Rp118,9 triliun, termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp18,2 triliun. Dari total tersebut, KAI menanggung beban utang Rp6,9 triliun dari China Development Bank (CDB) untuk menutup biaya tambahan.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, Jakarta - Dekatnya momen Lebaran seringkali diiringi…
NYALANUSANTARA, Jakarta - Petugas PT Kereta Api Indonesia…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng menggelar rangkaian…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film “Ohh My Dog” menghadirkan dua cerita…
NYALANUSANTARA, MOROWALI- Tiga program tanggung jawab sosial perusahaan atau…
NYALANUSANTARA, Semarang – Peredaran rokok elektronik (vape) yang…
NYALANUSANTARA, Semarang - Untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan…
NYALANUSANTARA, Semarang – Universitas Wahid Hasyim atau Unwahas…
NYALANUSANTARA, Semarang – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan…
NYALANUSANTARA, Temanggung – Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Semarang - Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa…
NYALANUSANTARA, Semarang - Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo…
NYALANUSANTARA, Semarang - Lapas Kelas I Semarang terus…

Komentar