ULASAN Don’t Follow Me: Horor Media Sosial yang Menyentil Ambisi dan Realitas Digital

ULASAN Don’t Follow Me: Horor Media Sosial yang Menyentil Ambisi dan Realitas Digital

CINEMA XXI

Film Don't Follow Me resmi tayang di Indonesia sejak 8 April 2026. Diproduksi oleh Blumhouse Productions dan disutradarai oleh Ximena García Lecuona bersama Eduardo García Lecuona, film ini menghadirkan horor yang terasa dekat dengan kehidupan modern—tentang ambisi menjadi terkenal di media sosial.

Dengan durasi sekitar 89 menit, film ini memadukan gaya found footage, rekaman layar ponsel, hingga kamera konvensional. Pendekatan ini cukup segar, meski di beberapa bagian terasa belum sepenuhnya konsisten.

Cerita berpusat pada Carla (Karla Coronado), seorang perempuan muda yang terobsesi menjadi influencer. Demi mengejar popularitas, ia pindah ke apartemen tua di Mexico City yang dikenal angker. Bersama sahabatnya, Sam (Julia Maqueo) dan Andrés (Yankel Stevan), Carla membuat konten horor palsu untuk menarik perhatian publik.

Awalnya strategi tersebut berhasil, namun situasi berubah ketika kejadian-kejadian aneh mulai muncul di luar kendali. Teror yang semula direkayasa perlahan menjadi nyata. Ironisnya, saat Carla benar-benar ketakutan dan meminta bantuan, orang-orang justru menganggap semuanya sebagai bagian dari konten.

Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga kritik sosial yang terasa relevan. Sosok Carla mencerminkan realitas banyak orang di era digital—rela melakukan apa saja demi validasi. Bahkan, elemen horor juga muncul dari interaksi online yang dingin dan minim empati, memperlihatkan sisi gelap dunia maya.

Secara atmosfer, film ini mengusung pendekatan slow burn yang membangun ketegangan secara perlahan. Setting apartemen yang sempit dan gelap berhasil menciptakan rasa tidak nyaman, diperkuat dengan detail visual seperti bayangan samar, suara misterius, hingga gangguan layar. Jumpscare tetap ada, namun digunakan secukupnya agar tidak berlebihan.

Dari segi akting, Karla Coronado tampil menonjol dengan transformasi emosi yang meyakinkan—dari ambisius menjadi rapuh dan panik. Interaksi antar karakter juga terasa natural, membuat cerita tetap hidup meski berlangsung di ruang terbatas.

Menjelang akhir, film ini menghadirkan twist yang cukup menarik dan diakhiri dengan ending terbuka yang mengundang interpretasi. Meski beberapa elemen terasa klise dan gaya visualnya sedikit campur aduk, secara keseluruhan film ini tetap efektif sebagai tontonan horor.

Don't Follow Me bukan sekadar film tentang teror gaib, tetapi juga refleksi tentang obsesi, tekanan sosial, dan batas tipis antara realitas dan konten digital. Cocok bagi penonton yang menyukai horor psikologis dengan sentuhan isu kekinian—dan mungkin membuat kita berpikir ulang soal ambisi di dunia maya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini