Fasilitasi Bimbingan Gratis Masuk PTN, Mahasiswa FIB UNAIR Gagas Platform REDUKA

Fasilitasi Bimbingan Gratis Masuk PTN, Mahasiswa FIB UNAIR Gagas Platform REDUKA

NYALANUSANTARA, Surabaya- Keterbatasan akses pendidikan bagi kalangan tertentu mendorong sejumlah mahasiswa untuk menciptakan solusi alternatif. Salah satu inisiatif hadir melalui REDUKA, sebuah platform belajar yang diinisiasi oleh Iqbal Rohim Al Farisi. Ia merupakan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang angkatan 2021 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR). 

Pada awalnya, platform REDUKA pertama kali didirikan tahun 2021 oleh Iqbal bersama tiga rekannya yang kini menempuh pendidikan di universitas berbeda. Namun setelah sempat vakum pada 2023, REDUKA aktif kembali pada pertengahan 2024 bersama Catur Ratna Sa’adah, rekan satu program studi Iqbal yang merupakan angkatan 2022.

Milki Tiga Program Unggulan
Dengan mengusung jargon Belajar Seru Bersama REDUKA!, program inisiasi Iqbal itu berkomitmen menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan terbuka bagi siapapun. Fokus utamanya adalah memberikan bimbingan belajar bagi siswa dari keluarga pra-sejahtera, termasuk mereka yang putus sekolah atau tengah mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. 

“Semua orang berhak mendapatkan pendidikan layak. Kami hadirkan program inovatif bagi para siswa yang tidak bisa mengikuti bimbel karena keterbatasan ekonomi,” ucap Iqbal. 

Hingga saat ini, REDUKA telah memiliki tiga program unggulan seperti Lentera, Genius, dan Sigma. Program Lentera berfokus pada pendampingan anak-anak putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikan. Adapun Genius secara khusus ditujukan bagi siswa kelas 12 SMA atau yang memilih gap year untuk bisa menghadapi UTBK. Sementara, Sigma banyak menyasar kalangan mahasiswa yang ingin meraih prestasi di bidang kepenulisan dengan menyediakan berbagai program pembinaan. 

Iqbal menyampaikan bahwa seluruh program REDUKA diberikan secara gratis. Pembelajarannya berlangsung secara hybrid yaitu melalui daring Zoom Meeting dan luring di Ploso, Surabaya. Para peserta kemudian dibimbing oleh tutor yang direkrut melalui program volunteer. 

“Kami ingin REDUKA menjadi ruang untuk bertumbuh. Bukan cuma untuk siswa, tapi juga para mahasiswa relawan,” tuturnya.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini