Fiksi Ilmiah China Mengalami Kebangkitan : Dari Tiga Matahari ke Masa Depan Asia

Fiksi Ilmiah China Mengalami Kebangkitan : Dari Tiga Matahari ke Masa Depan Asia

Menurut Oni, karya fiksi ilmiah China memiliki "rasa Asia" yang khas. "Fiksi ilmiah Barat sekarang banyak membahas isu seperti rasisme, seksisme, dan isu-isu sosial lainnya. Sci-fi China cenderung kembali ke tema-tema klasik, seperti penjelajahan ruang angkasa dan masa depan peradaban." Sedangkan bagi Silvana, dia merasa sci-fi China memiliki latar belakang dan nilai-nilai yang unik karena banyak yang mengambil dari sejarah bangsa, yang sudah berusia ribuan tahun. "Pengaruh mitologi dan budaya sangat kental walau setting-nya modern atau futuristik, bahkan terasa relatable ketika membahas kecemasan urban," imbuhnya.

Minatnya pada sci-fi bahkan membawa Silvana menghadiri World Science Fiction Convention (Worldcon) 2023 di Chengdu, Provinsi Sichuan, China barat daya. Gelaran tersebut merupakan konvensi fiksi ilmiah tahunan terbesar di dunia.

Bagi Silvana, penyelenggaraan acara itu sangatlah impresif. Menurutnya, fasilitas bagi peserta asing sangat memuaskan, mulai dari layanan antar jemput gratis, merchandise, hingga tur ke museum dan pusat konservasi panda. "Bahkan ada robot raksasa dari 'The Wandering Earth' di venue!" celetuk wanita berusia 30-an tahun itu antusias saat diwawancarai Xinhua pada Selasa (24/6). Dia mencatat bahwa infrastruktur acara tersebut mencerminkan keseriusan China membangun brand sebagai pusat fiksi ilmiah dunia yang baru.

Meski demikian, tantangan tentu masih ada. Salah satunya adalah keterbatasan akses. "Sekitar 60 persen sesi Worldcon hanya tersedia dalam bahasa Mandarin," kata Silvana. Hal itu cukup membatasi partisipasi peserta internasional, termasuk dia sendiri, ujarnya.

Di sisi lain, Oni berpendapat meski minat pembaca Indonesia terhadap genre ini masih cukup rendah dan kalah pamor dibanding fiksi fantasi, pembacanya tergolong kritis dan fanatik. Basis pembaca tersebut turut memperkuat popularitas "The Three-Body Problem", yang merupakan buku pertama dari trilogi "Remembrance of Earth's Past". Terjemahan buku pertama itu, yang judulnya dialihbahasakan menjadi "Trisurya", pertama kali terbit pada 2019 dan kini telah memasuki cetakan keempat. "Banyak yang bilang, setelah membaca versi Indonesia dari 'The Three-Body Problem', mereka menjadi lebih paham beberapa konsep ilmiah dalam novel ini," ujarnya menambahkan.

Keduanya berharap nantinya akan lebih banyak lagi karya sci-fi China yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan lebih banyak juga yang diadaptasi ke dalam film atau serial televisi. "Film adalah media yang sangat baik untuk memopulerkan fiksi ilmiah," kata Oni. Mengenai pengaruh global, Silvana merasa "China bisa menjadi pionir untuk membangun komunitas sci-fi Asia. Misalnya, dengan membuat konvensi regional yang melibatkan penulis dari Filipina, Jepang, atau negara-negara Asia lainnya yang potensial seperti Indonesia. Di Asia belum ada yang seperti ini," tuturnya.

Kebangkitan sci-fi China, yang juga mendapat dukungan kuat dari pemerintah lewat kebijakan yang suportif, merupakan penanda bahwa masa depan tak lagi dimonopoli oleh satu kiblat budaya. Imajinasi tentang masa depan bisa datang dari Timur, dengan perspektif, nilai, dan cerita yang berbeda. Dan seperti diyakini Oni dan Silvana, selama ada akses dan minat, pembaca Indonesia siap menyambutnya.  


Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini