Melalui Salak Bali, Indonesia Raih Penghargaan Sistem Warisan Pertanian Penting Global Pertama dari FAO

Melalui Salak Bali, Indonesia Raih Penghargaan Sistem Warisan Pertanian Penting Global Pertama dari FAO

Kabupaten Karangasem merupakan sentra produksi salak terbesar di Bali dengan produksi 24.972 ton pada tahun 2024. Sistem ini melibatkan sekitar 2.800 petani di Desa Adat Sibetan yang menjaga lebih dari 12 varietas lokal salak. Aturan adat setempat (awig-awig) melindungi lahan pertanian dari alih fungsi serta membatasi penjualan lahan kepada pihak luar, memastikan keberlanjutan sistem agroforestri selama turun-temurun.

Sekretaris Daerah Karangasem, I Ketut Sedana Merta, menyampaikan bahwa pengakuan global ini merupakan penghormatan atas pengetahuan leluhur dan pengelolaan lahan yang telah menjaga keanekaragaman hayati dan keberlanjutan lingkungan selama berabad-abad.

“Di tengah tantangan alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda dalam bertani, serta perubahan iklim, pengakuan GIAHS ini menjadi dorongan untuk terus berinvestasi pada petani dan praktik berkelanjutan mereka,” ujarnya.

“Kami berharap pengakuan ini meningkatkan perhatian global terhadap sistem agroforestri salak, membuka peluang kolaborasi internasional, memperkuat kemitraan publik-swasta-komunitas dalam agrowisata, pengembangan produk turunan, riset pertanian, dan konservasi keanekaragaman hayati, serta menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pangan dan pertanian,” urainya.

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan pentingnya GIAHS sebagai model ketahanan iklim dan transformasi sistem pangan. “Dengan dukungan yang tepat, GIAHS dapat berkembang dari inisiatif konservasi menjadi model sistem pangan yang tangguh terhadap perubahan iklim,” ujar Aryal.

“Komunitas di berbagai wilayah Indonesia memiliki sistem pertanian tradisional berharga yang dapat menjadi solusi adaptasi iklim. FAO siap mendukung Indonesia menjaga situs GIAHS pertamanya dan mendorong penetapan situs-situs berikutnya” katanya.

Indonesia bergabung dengan Brazil, Tiongkok, Ekuador, Iran, Italia, Jepang, Korea, Meksiko, Maroko, Spanyol, Thailand, dan Tunisia dalam menerima penghargaan GIAHS tahun ini. Selain mempromosikan komoditas unggulan, kegiatan ini menjadi ajang pertukaran pengetahuan tradisional, praktik ekologis, dan budaya antarnegara.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini