Akademisi UMJ Ini Sebut Indonesia dan China Berbagi Komitmen dalam Penguatan Multilateralisme Global
NYALANUSANTARA, Jakarta- Pengamat hubungan internasional menilai bahwa Indonesia dan China memiliki komitmen bersama yang kuat dalam upaya penguatan multilateralisme, yang telah terjalin sejak Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung 70 tahun silam. Di tengah menurunnya semangat kerja sama global, kedua negara dinilai memiliki peran penting dalam mendorong kembali kerja sama multilateral yang saling menguntungkan.
Hal itu disampaikan oleh Asep Setiawan, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dalam Wanxinda Indonesia-China Youth Forum di Jakarta pada Selasa 25 November 2025.
"KAA saat itu melahirkan Dasasila Bandung yang hingga saat ini menjadi pijakan kebersamaan antara Indonesia dan China untuk membangun tata kelola global yang lebih adil," ungkap Asep kepada Xinhua.
Sejak saat itu, kedua negara dinilai terus aktif dalam berbagai inisiatif untuk mendorong kerja sama multilateral. Asep memberi contoh agenda seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-China (ASEAN-China Summit) yang digelar setiap tahun, keanggotaan dalam BRICS, serta partisipasi aktif dalam forum dialog negara-negara berkembang Global South.
Semangat multilateralisme ini dianggap semakin penting untuk diperkuat oleh kedua negara, terutama di tengah meningkatnya unilateralisme dan berbagai tantangan ekonomi global akibat proteksionisme melalui kebijakan tarif perdagangan.
Menurut Asep, semangat multilateralisme ini akan memberi manfaat dalam membentuk sistem tata kelola global yang lebih adil melalui munculnya berbagai alternatif. BRICS disebut telah menjadi salah satu alternatif bagi tata kelola dunia, yang saat ini masih sangat bergantung pada mekanisme yang dibentuk oleh negara-negara Barat.
"Salah satu aspek multilateralisme yang menurut saya harus ditunggu ke depan adalah bagaimana memberlakukan sistem moneter dunia yang tidak bergantung pada mata uang Barat, dan BRICS bisa menjembatani hal itu dengan Yuan China yang berpotensi menjadi mata uang alternatif global," papar Asep.
Sementara itu, Harryanto Aryodiguno, akademisi hubungan internasional dari President University, menyebutkan bahwa semangat multilateralisme untuk mengakhiri penjajahan yang digaungkan dalam KAA Bandung masih relevan sampai sekarang. Hal ini dibuktikan dengan posisi Indonesia dan China yang terus aktif dalam mendorong pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat melalui solusi dua negara.
Selain mendorong perdamaian, Harryanto mengatakan bahwa komitmen multilateralisme antara Indonesia dan China juga berkembang dalam upaya kerja sama pembangunan ekonomi. Kerja sama ini dinilai sukses, dengan Indonesia menjadi salah satu contoh keberhasilan komitmen pembangunan luar negeri China.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Menteri Transmigrasi Republik Indonesia (RI) Muhammad Iftitah…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa…
Terkini
Hantu dalam horor Indonesia kian sering kehilangan daya…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Pemerintah provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
Kabar menggembirakan datang bagi penggemar film horor dan…
NYALANUSANTARA, Salatiga– Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka…
NYALA NUSANTARA, Semarang - Wali Kota Semarang Agustina…
Volvo resmi memperkenalkan EX60 untuk pasar Eropa. Model…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menetapkan pagu efektif anggaran…
NYALA NUSANTARA, Jepara – Bank Jateng kembali menunjukkan…
NYALANUSANTARA, IKN- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan komitmennya untuk…
NYALANUSANTARA, PONOROGO- Seorang perempuan bernama Nur Aini (55) ditemukan…
NYALANUSANTARA, Cilacap - Kantor SAR Cilacap mengirimkan Tim…
Komentar