Program Desalinasi, Mengubah Wajah Pesisir Jawa Tengah

Program Desalinasi, Mengubah Wajah Pesisir Jawa Tengah

Ia berharap pemerintah pusat dapat mengadopsi konsep ini, terutama jika proyek giant sea wall di Pantura kelak terwujud. Kolam retensi di sepanjang tanggul laut, menurutnya, bisa menjadi sumber air baku desalinasi. Jika kolam retensinya bisa dimanfaatkan, kebutuhan air bersih di sepanjang Pantura teratasi. 

Pakar desalinasi Undip, Prof I Nyoman Widiasa, menyebut program ini sebagai contoh nyata collaborative governance. Pada 2026, Undip bahkan menyiapkan pengembangan desalinasi berbasis tenaga surya agar lebih hemat energi. Teknologi ini juga didorong untuk dimanfaatkan industri, sehingga pengambilan air tanah yang menjadi penyebab penurunan muka tanah bisa dikurangi.

“Dampak langsungnya adalah air minum aman dan murah. Dampak jangka panjangnya kesehatan masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.

Bagi Nyoman, kunci keberlanjutan opersional mesin desalinasi terletak pada aspek pengelolaan. Sistem pengelolaan berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Ada yang dikelola oleh Pondok Pesantren, oleh Bumdes, oleh Koperasi, dan oleh KP SPAM. 

Pemprov Jawa Tengah pun telah menyiapkan langkah lanjutan. Pada 2026, dua unit desalinasi tambahan direncanakan dibangun, dengan alternatif lokasi di Tegal, Pemalang, dan Demak, menyesuaikan kemampuan anggaran.

Di pesisir Jawa Tengah, air asin tak lagi semata membawa masalah. Dengan teknologi, kolaborasi, dan keberpihakan kebijakan, laut kini menghadirkan harapan. Ia mengalir pelan sebagai air kehidupan bagi warga yang selama ini paling dekat dengan pantai, namun paling jauh dari air bersih.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini