ULASAN The Period of Her, Empat Cerita tentang Perempuan dan “Hukuman” Bernama Patriarki

ULASAN The Period of Her, Empat Cerita tentang Perempuan dan “Hukuman” Bernama Patriarki

“Tiap menstruasi rasanya seperti dihukum.” Kalimat ini menjadi benang merah dalam The Period of Her, sebuah film omnibus yang menghadirkan empat kisah perempuan dari sudut pandang empat sutradara berbeda. Menstruasi di sini bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan simbol bagaimana menjadi perempuan di Indonesia kerap diperlakukan sebagai kesalahan yang harus ditanggung.

Segmen pembuka Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani menyoroti Shela (Ika Dihardjo), perempuan yang dipermalukan setelah memergoki kekasihnya berselingkuh. Alih-alih menyesal, sang lelaki justru melabeli Shela “murahan” karena tak lagi perawan. Film ini menelanjangi standar ganda: perempuan kehilangan harga diri saat keperawanannya hilang, sementara laki-laki justru dipuji maskulinitasnya. Lewat dunia kuda lumping dan mistisisme, perempuan menemukan ruang untuk melawan, meski tetap harus menanggung slut-shaming sebagai konsekuensinya.

Pada Romansa Keparat garapan Praditha Blifa, fokus beralih pada Wati (Claresta Taufan) yang mendambakan anak, namun terus disalahkan suaminya setiap kali menstruasi datang. Keinginan Wati lahir dari cinta, sementara sang suami melihat anak sebagai bukti kejantanan. Claresta tampil subtil, memperlihatkan pergulatan batin perempuan yang menolak tunduk pada ego laki-laki maupun takdir yang dipaksakan padanya.

Swim Swimming to the Shore karya Sarah Adilah membawa isu ke ruang yang berbeda. Annisa (Afiqa Kirana) terancam gagal mengikuti turnamen renang karena sekolah mewajibkan hijab bagi siswi yang telah balig, sementara aturan lomba tak mengakomodasinya. Film ini menempatkan Annisa dalam posisi serba salah: terbuka dianggap keliru, tertutup pun bermasalah. Lewat minim dialog, ekspresi Annisa menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap seksisme yang membatasi tubuh perempuan. Performa Afiqa Kirana bahkan mengantarkannya meraih Best Performance di JAFF 2025.

Penutup yang paling ringan datang dari Not Dead Enough arahan Erlina Rakhmawati. Dengan komedi gender-swap absurd, seorang suami mokondo tiba-tiba merasakan hidup sebagai perempuan: terkungkung di rumah, diatur cara berpakaian, dan harus berhadapan dengan menstruasi. Segmen ini menghibur sekaligus menyindir, menunjukkan ketimpangan gender lewat tawa yang getir. Musik gamelan dengan vokalisasi unik menambah kesan jenaka sekaligus reflektif.

Memang, durasi pendek membatasi pendalaman emosi di tiap segmen. Namun, The Period of Her berhasil menjalankan tujuan utamanya: membuka ruang bagi suara perempuan di tengah budaya patriarki yang kerap membungkam mereka. Sebuah omnibus yang sederhana, namun lantang dalam menyampaikan bahwa menjadi perempuan bukanlah kesalahan—meski sering diperlakukan sebaliknya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini