REVIEW Alas Roban, Teror Psikologis dari Jalur Legendaris Pantura
Bagi banyak orang, Alas Roban bukan sekadar ruas jalan penghubung antarkota di jalur Pantura. Nama ini telah lama hidup sebagai kisah gelap yang diwariskan turun-temurun, terutama di kalangan sopir malam. Hutan lebat, tikungan tajam, kabut tebal, dan cerita-cerita ganjil yang kerap terdengar membuat Alas Roban seolah memiliki aura mistis tersendiri. Film Alas Roban mencoba menangkap mitos tersebut dan menerjemahkannya ke layar lebar dalam bentuk horor psikologis yang kental dengan nuansa lokal.
Disutradarai Hadrah Daeng Ratu dan tayang mulai 15 Januari 2026, Alas Roban tidak menjadikan lokasi sekadar latar, melainkan pusat teror itu sendiri. Hutan Alas Roban digambarkan seperti entitas hidup yang menyimpan ingatan, rahasia, dan kuasa atas siapa pun yang berani melintas di malam hari.
Kisah film berfokus pada Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal dari Pekalongan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Demi memulai hidup baru, ia menerima pekerjaan di Semarang dan mengajak putrinya, Gendis (Fara Shakila), yang memiliki keterbatasan penglihatan. Perjalanan mereka menggunakan bus malam berubah menjadi mimpi buruk ketika kendaraan mogok di tengah Alas Roban, jauh dari permukiman dan minim cahaya.
Sejak kejadian tersebut, Gendis mulai mengalami gangguan aneh. Mimpi buruk, bisikan tak kasatmata, hingga penampakan yang tak bisa dijelaskan secara logis perlahan menghantui kehidupannya. Teror itu mengarah pada ritual lama dan janji mistis yang konon mengikat kawasan Alas Roban sejak masa lampau. Demi menyelamatkan anaknya, Sita terpaksa kembali ke tempat penuh trauma itu, dibantu seorang penjaga spiritual bernama Bu Emah.
Kekuatan utama Alas Roban terletak pada atmosfernya. Visual hutan yang gelap, kabut yang menggantung, dan jalan sempit yang seolah tak berujung berhasil menciptakan rasa terisolasi yang konsisten. Kamera kerap menempatkan karakter dalam ruang yang luas dan sunyi, menegaskan betapa kecil dan rapuhnya manusia di hadapan alam. Penataan suara juga menjadi nilai plus, dengan memanfaatkan keheningan dan bunyi alam ketimbang musik keras yang berlebihan.
Dari sisi akting, Michelle Ziudith tampil meyakinkan sebagai ibu yang terhimpit rasa bersalah dan ketakutan, namun tetap berjuang demi anaknya. Fara Shakila pun mampu menghadirkan ketakutan yang tulus tanpa terkesan dibuat-buat. Chemistry ibu dan anak ini menjadi fondasi emosional yang kuat sepanjang film. Kehadiran Ruth Marini sebagai Bu Emah menambah warna lokal, terutama dalam adegan ritual yang terasa autentik.
Meski demikian, film ini masih terasa bermain aman dalam menggali sejarah kelam Alas Roban. Horor yang dihadirkan lebih bersifat personal dan belum sepenuhnya menyentuh memori kolektif yang melekat pada jalur legendaris tersebut. Di beberapa bagian, ketegangan terasa datar akibat penggunaan jumpscare yang cukup konvensional.
Editor: Lulu
Terkait
FILM animasi terbaru bertema religi, The King of…
Alas Roban, jalur legendaris di Kabupaten Batang, Jawa…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Jumlah kunjungan turis China ke Indonesia…
NYALANUSANTARA, Semarang - Meski berada pada periode puncak…
NYALANUSANTARA, Kediri- Persik Kediri semakin memperkuat skuad mereka…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kepala Kanwil Kemenkum Jateng Heni…
NYALANUSANTARA, Kediri- Persik Kediri kembali melakukan perpisahan dengan…
NYALANUSANTARA, Bogor- Pemerintah Indonesia menggelar Rapat Koordinasi Nasional…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Ajax Amsterdam telah resmi memperkenalkan Maarten…
Pemalang - Kanwil Kemenkum Jateng melaksanakan Pembinaan Pos…
NYALANUSANTARA, Semarang- Di Semarang dan sekitarnya, kegiatan olahraga…
Slawi – Bank Jateng Cabang Slawi kembali menunjukkan…
Komentar