ULASAN Twisters: Spektakel Tornado Sarat Emosi dan Kemanusiaan
NETFLIX
Twisters hadir sebagai upaya menghidupkan kembali keseruan Twister, film bencana legendaris yang dulu begitu populer hingga disebut-sebut meningkatkan minat studi meteorologi di Amerika Serikat. Namun kali ini, film arahan Lee Isaac Chung—yang sebelumnya dikenal lewat Minari—tidak sekadar mengandalkan teror badai, tetapi juga memperkuat dimensi drama humanis yang dulu dianggap kurang tergarap maksimal.
Meski dipromosikan sebagai sekuel mandiri, minimnya keterkaitan langsung dengan film pertama serta pola penceritaannya membuat Twisters terasa lebih seperti remake modern. Keduanya sama-sama dibuka dengan terjangan tornado F5 mematikan yang merenggut orang terdekat sang protagonis dan meninggalkan trauma mendalam. Bedanya, versi terbaru tampil lebih brutal dan emosional, dengan dampak psikologis yang terasa lebih membekas.
Tokoh utamanya adalah Kate (Daisy Edgar-Jones), mantan pemburu badai yang sempat mundur akibat tragedi masa lalu. Pertemuannya kembali dengan sahabat lamanya, Javi (Anthony Ramos), menyeret Kate kembali ke dunia ekstrem yang dulu ia tinggalkan—dunia yang masih kerap meremehkan perempuan di lapangan.
Namun kemampuan Kate tak bisa dipandang sebelah mata. Jika film pertama memperkenalkan alat bernama Dorothy untuk mengumpulkan data tornado, Twisters melangkah lebih ambisius. Kate bermimpi menciptakan teknologi yang bukan hanya mempelajari, tetapi mampu “membunuh” tornado—sebuah lompatan gagasan yang sejalan dengan prinsip sekuel: lebih besar dan lebih berani.
Di tengah perjalanannya, Kate beririsan dengan Tyler (Glen Powell), selebritas YouTube yang populer berkat aksi nekatnya memburu badai. Chemistry antara Daisy Edgar-Jones dan Glen Powell terasa solid dan natural. Berkat naskah garapan Mark L. Smith (The Revenant, The Midnight Sky), romansa mereka tidak jatuh ke dalam klise dan justru memperkaya dinamika cerita.
Menariknya, film ini sempat memosisikan kelompok Tyler—yang tampil urakan dan serampangan—sebagai antagonis di paruh awal. Sebaliknya, tim Javi terlihat lebih profesional dengan teknologi canggih dan penampilan rapi. Namun naskahnya cerdas membalik ekspektasi, menyampaikan pesan agar tak gegabah menilai seseorang dari tampilan luar. Dari situ pula muncul konflik antara keserakahan korporasi dan perjuangan akar rumput.
Meski mengikuti kerangka alur serupa dengan pendahulunya—bahkan memungkinkan penonton membuat daftar panjang kesamaan plot—Twisters jauh lebih fokus pada pengembangan karakter. Ini menjadi pisau bermata dua. Penonton yang menginginkan aksi tanpa henti mungkin merasa tempo melambat di babak kedua. Namun jeda-jeda tersebut justru memperkuat fondasi dramatis dan kedalaman emosional kisahnya.
Puncaknya pun berbeda. Jika sebelumnya klimaks hanya soal bertahan hidup dari terjangan angin, kali ini Kate tidak sekadar melarikan diri. Di tengah pusaran tornado yang divisualisasikan lewat CGI impresif, ia justru melaju menuju pusat bencana demi menyelamatkan orang lain.
Pada akhirnya, Twisters bukan hanya tontonan kehancuran spektakuler. Film ini menegaskan bahwa di balik amukan alam, ada keberanian, empati, dan nilai kemanusiaan yang tak kalah dahsyat.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang- Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT)…
NYALANUSANTARA, Kupang - Kementerian Hukum meresmikan pembentukan Pos…
NYALANUSATARA, Kulon Progo- Kabupaten Kulon Progo semakin mempertegas…
NYALANUSANTARA, Wonogiri- Kegiatan penarikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata…
NYALANUSANTARA, Kulon Progo- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan…
NYALANUSANTARA, Yogyakarta - Menyambut masa Angkutan Lebaran (Angleb)…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Indonesia telah resmi diumumkan sebagai Wakil…
NYALANUSANTARA, Jakarta — Kanwil Kemenkum Jateng mengikuti kegiatan…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan…
Komentar